Membawa "Born To Suffer", Shatter Menambah Daftar Panjang Kolektif Musik Cadas Surabaya
Satu kolektif musik ekstrem kembali hadir di Kota Pahlawan. Tiga pria di bawah panji Shatter hadir dan membawa "Born To Suffer" sebagai karya perdana. Kondisi pandemi yang saat ini melanda dunia jadi sumber inspirasi mereka dalam single tersebut.
Dari timur Pulau Jawa, tiga orang pria: Irfanda (vokal), Hamim (gitar) dan Tino (bas) di bawah panji Shatter menambah daftar panjang kolektif musik cadas di Kota Surabaya. Mengusung genre D-beat/HC punk yang banyak terinspirasi oleh Baptists, From Ashes Rise, Tragedy hingga Wolfbrigade, Shatter terjun bebas ke riuh musik bawah tanah dan membawa karya perdana mereka, sebuah single dengan titel "Born To Suffer". Menunjuk tanggal 30 Mei 2020, Shatter melepas debut single mereka melalui laman Bandcamp.
Terinspirasi dari situasi hari ini, "Born To Suffer" adalah sebuah materi yang menceritakan krisis menurunnya tingkat populasi kehidupan manusia di dunia yang disebabkan oleh masalah sosial. Masifnya penyebaran virus di kala pandemi ini jadi sumber ide Shatter dalam merilis "Born To Suffer". Di kondisi yang serba sulit dan tidak menentu, tak sedikit manusia menghalalkan segala cara demi bertahan hidup; mencuri, merampok, atau hal-hal negatif lainnya terkait mempertahankan stabilitas ekonomi masing-masing. Tak ayal jika angka kriminalitas melonjak drastis saat ini.
Proses kreatif Shatter berjalan sejak pertengahan tahun 2019. Mereka mengawali aktivitas dengan membuat target dalam bentuk timeline yang jadi acuan atas apa saja yang harus mereka tuntaskan. Selanjutnya, mereka merekam "Born To Suffer" di Inferno Studio 178, Surabaya selama lebih kurang satu bulan. Setelah sesi rekaman selesai, mereka melanjutkan pada sesi mixing-mastering yang dipercayakan pada Griffin Studio, Malang.
"Born To Suffer" adalah sarana Shatter memperkenalkan diri, terutama pada para pecinta musik ekstrem. Ke depannya, mereka juga berencana akan menyebar karya tak hanya melalui laman Bandcamp, tapi juga di kanal musik digital lainnya.
Comments (0)