Mengangkasa Bersama Tono Prance di EP Perdananya

Mengangkasa Bersama Tono Prance di EP Perdananya

Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Tono Prance

Dengan dirilisnya mini album Anju Angkasa, kuintet asal Ibukota, Tono Prance bersiap lepas landas menuju ‘angkasa’

Kugiran Tono Prance kembali dengan aranasemen rock tradisional, heavy rock, hard rock, stoner rock, dan psychedelic rock lalu memanifestasikannya menjadi sebuah EP terbaru bertajuk Anju Angkasa. Dengan dirilisnya mini album tersebut, kuintet asal Ibukota ini bersiap lepas landas menuju ‘mengangkasa’.

Pesan terlebih dahulu EP Anju Angkasa dalam bentuk kaset maupun Box Set Merchandise (Bundle Pack), sebenarnya sudah dibuka per tanggal 23 Januari s/d 12 Februari lalu, berisikan lima track lagu yang terdiri dari dua materi yang sebelumnya sudah disebar di berbagai gerai musik digital -  “Pendosa” dan “Elvis Elah” -  ditambah 3 track anyar yang belum pernah di rilis, yaitu: “Kanuragan”, “Ria/Riya”, dan “Dwar”.

Mengutip dari sang vokalis, Noval  yang mengusulkan judul EP, ia menyatakan kata Anju merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang artinya “percobaan hendak melangkah menuju Angkasa”. EP ini dimaksudkan sebagai ancang-ancang Tono Prance memulai debutnya di kancah permusikan Indonesia.

Lima tahun sudah Iwan (Rhythm Guitar), Novaldi (Vocal), Guruh (Drum), Iqbal (Lead/Melodic Guitar), dan Ajid (ex Bass) mempersiapkan EP Anju Angkasa ini. Sekelumit proses kreatif menyertainya dituntaskan agar pesan yang terdapat di dalam album bisa tersampaikan ke para pendengar.

“Konsep yang kami coba sampaikan dalam album anyar sekaligus perdana dari album Anju Angkasa ini, kami berusaha menyuarakan bagaiamana manusia berproses dalam menjadi makhluk kompleks secara satire namun gamblang. Kompleks dalam menuai berbagai keresahan dan masalah sebagai seseorang makhluk yang memiliki akal dan budi pekerti,” dikutip dari siaran pers yang diterima redaksi.

Tono Prance merefleksikan bagaimana hubungan (sisi) spiritual harus tetap dijaga, meski  terhimpit di tengah  derasnya arus modernisasi yang segala halnya selalu berkaitan dengan dunia, umumnya hanya dinilai dari hasrat kebendaannya saja. Sifat kejiwaan (rohani dan batin) umat manusia dengan penciptanya yang mulai pudar menjadi tema utama yang diusung Tono Prance.

“Album ini kami nyatakan sebagai perjalanan kami yang terbilang masih singkat, dan percobaan titik permulaan kami untuk dapat di terima oleh masyarakat sebagai musik yang akan melegenda suatu saat nanti. Harapan kami dalam album ini, kami ingin album kami ini di kenang sebagai album yang dapat menampung sedikit keresahan, cerita, dan pengalaman kami sebagai manusia fana yang kami coba intepretasikan lewat musik di dalam Tono Prance,” tutup mereka.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Tono Prance (@tonoprance)

BACA JUGA - “Joyous” : Dunia Seru Ala Vanilla Party

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner