Merangkum Gerak Serta Geliat Keseharian Di Album Perdana Rasavala ‘Kinetis’

Merangkum Gerak Serta Geliat Keseharian Di Album Perdana Rasavala ‘Kinetis’

Sumber foto : Diambil dari siaran pers Rasavala

Ibarat sederhananya nasi, corak musik yang mereka coba tawarkan di album ini memang tak banyak menyajikan terobosan

Ruang kreasi musik di arus bawah tanah memang selalu diisi dengan sesuatu yang menarik atensi penggemar musik dengan tawaran beragam karya-karya yang digagas tanpa pakem tertentu, seluas-luasnya berkreasi dan sebebas mungkin berekspresi. Kali ini sajian anyar datang dari album bertajuk Kinetis, sebuah album perdana dari salah satu unit asal Kota Bogor, Rasavala. Album Kinetis telah resmi dirilis belum lama ini secara digital di berbagai layanan DSP pada umumnya seperti Spotify.

Kinetis yang berarti bergerak, menjadi pengantar awal untuk tema musik yang mereka usung diterjemahkan lewat delapan materi di dalamnya. Sesuai namanya yang membentuk narasi kokoh, album ini merangkuman gerak serta geliat keseharian yang selalu lupa untuk disyukuri. Mereka juga teringat akan sebuah kutipan dari seorang kawan bahwa “Hidup adalah kecepatan yang tak tertandingi” dan bagi mereka album Kinetis ini benar-benar membawa semangat kutipan tersebut. Seluruh isian musik yang disajikan kental akan nuansa musik seperti grunge ataupun alternative rock yang dipoles dengan warna Seattle Sound, terpancar hampir di seluruh bagian album ini.

Dibuka dengan nomor pertama bertajuk “Resah”, seakan menjadi hook yang tepat di telinga siapa saja yang tak senang dengan basa-basi. “Resah” didaulat menjadi materi favorit mereka yang diracik melalui komposisi musik yang begitu dinamis, bassline yang gahar, diimbangi distorsi yang pas, vokal tanpa ragu yang ugal dan genit. Sepakat dengan pernyataan mereka, lagu yang berdurasi 3 menit lebih sekian detik ini, begitu padat dan seakan terlalu singkat. Namun hal ini turut berbicara mengenai narasi mereka tentang Kinetis, seakan emosi yang dibawakan memang seharusnya segera kita lupakan agar bisa kembali berpura-pura kalau hidup baik-baik saja.

Ibarat sederhananya nasi, corak musik yang mereka coba tawarkan di album ini memang tak banyak menyajikan terobosan, seperti upaya band-band lain yang sedang marak mengusung cross genre dengan perpaduan hiasan bebunyian eksplorasi dari instrumen berbeda yang menawarkan ‘hidangan mewah’. Rasavala dengan lugas masih mengamini paham kolot bahwa band adalah adalah gitar, bass, drum, dan vokal. Musik mereka memang tak mencoba membawa kesegaran, karena konsep kesegaran atau sesuatu yang baru itu sendiri sudah usang. Persis seperti nasi. 

“Dan ketika saya menyatakan bahwa sajian ini seperti nasi, ini bukanlah sebuah konotasi negatif. Lagu-lagu dalam album ini justru jadi sajian yang utuh saat diperdengarkan. Mengapa demikian? Karena bagi saya, suasana saat kalian mendengarkannya justru akhirnya menjadi lauk untuk nasi ini. Bisa jadi lauknya adalah kemacetan kota, waktu-waktu yang terbuang karena iklan dan buffering, hubungan yang tidak berhasil, impian yang tertunda, atau bahkan tagihan yang menghantui. Akhir kata, selaku warga yang taat serta menghidupi adat istiadat, bukankah kita tak bisa hidup tanpa nasi?” tutup Rasavala.

Rasavala adalah band yang telah terbentuk sejak pertengahan tahun 2016 silam. Mereka mengalir melawan arus utama dengan sebuah EP / mini album bertajuk Sanguinis pada tahun 2019 dan dua buah single, “Congkak” yang keluar di tahun 2016, dilanjutkan dengan single “Reaper” yang rilis di tahun berikutnya 2017. Di tahun ini Rasavala menambah catatan baru untuk jejak bermusik mereka dengan album penuh bertajuk Kinetis ini yang dirilis melalui Hujan Rekords. Simak album terbaru dari Resavala ini melalui tautan dibawah.

BACA JUGA - Berkontemplasi Bersama Settle Lewat Single Terbarunya “Her Favorite Dress”

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner