“Nol Koma”, Cara Sekar Pusara Berempati Lewat Lagu

“Nol Koma”, Cara Sekar Pusara Berempati Lewat Lagu

Sumber Foto : Diambil dari rilisan pers Sekar Pusara

Mengetengahkan keadaan sosial yang terjadi, kali ini Sekar Pusara mengusung tragedi Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang menyebabkan terjadinya kabut asap diberbagai wilayah Indonesia.

Bicara soal musik grunge, rasanya akan menjadi sejalan dengan sesuatu yang erat kaitannya dengan opini. Bisa tentang apa saja, dengan ragam ketajaman lirik yang disempurnakan lewat olahan musiknya yang menggigit. Pun begitu dengan yang diamini oleh band Sekar Pusara. Memantapkan pilihan dengan mengusung genre (yang mereka namakan) Alternative Grunge Ethnic, Sekar Pusara hadir dengan kreasi terbarunya yang berjudul “Nol Koma”, yang mereka daulat sebagai single keduanya.

Mengetengahkan keadaan sosial yang terjadi, kali ini Sekar Pusara mengusung tragedi Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang menyebabkan terjadinya kabut asap diberbagai wilayah Indonesia. Tentang hal ini diakui oleh mereka jika bersimpati itu harus dengan gerakan, misalnya dengan menyuarakan kegelisahan melalui sebuah karya, seperti di lagu “Nol Koma” yang disinyalir sebagai bentuk kepedulian Sekar Pusara melalui karya musik.

Lebih jauh bercerita tentang single terbarunya, lagu “Nol Koma” menurut mereka adalah representasi dari keadaan kala terjadinya Karhutla di Indonesia, di mana secara isian liriknya arti dari “Nol Koma” itu sendiri berarti udara yang sudah berujung koma atau hilang. Selain itu, “Nol Koma” juga menjadi sebuah harapan dari sesuatu yang tidak pasti berupa harapan kehidupan, kepedulian, serta perubahan yang menjanjikan korban agar kembali menghirup nafas yang lebih baik. “Kami sangat peduli akan alam, karena kita hidup berkat alam. Kami pun peduli akan udara, karena kita mampu bernafas karena adanya udara”, ujar vokalis Sekar Pusara.

Menariknya lagi, lagu “Nol Koma” dikemas secara haru nan pilu dengan padanan lirik yang dibuat dari puisi dari “Sang Tiada” yang penuh makna dan penghayatan sebagai manusia yang kehilangan udara dan nyawa (alam). Nuansa yang diberikan pun sangat melekat diingatan sehingga mendapatkan impresi yang baik. Karena Sekar Pusara ingin memberikan sajian perlawanan “Menolak Kabut Asap” dengan musiknya, sehingga memaksa pendengar agar menjadi manusia yang bijak tak melupakan kejadian kabut asap yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai tambahan, lagu “Nol Koma” juga merupakan kado ulang tahun Sekar Pusara yang pertama pada bulan Desember lalu. Seperti apa lagunya? simak melalui tautan di bawah ini.

BACA JUGA - “Aku Bukan Mesin”, Bentuk Apresiasi Sekar Pusara Untuk Para Buruh

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner