RABU Kentalkan Sisi Mistik dalam Single Terbaru “Hilangnya Kehangatan”

RABU Kentalkan Sisi Mistik dalam Single Terbaru “Hilangnya Kehangatan”

Sumber Foto : Diambil dari rilisan pers RABU

RABU, yang baru saja merilis single baru berjudul “Hilangnya Kehangatan” masih dalam pusaran mistisme yang kental itu

Etalase musik Indonesia saat ini diisi dengan ragam warna musik yang menandakan ekosistem di dalamnya berkembang pesat. Salah satu warna yang mengisi keragaman itu adalah Folk Klenik/mistik yang diusung oleh RABU. Namun sejatinya predikat klenik atau mistik melekat pada band ini semenjak merilis demo EP Semenjak Wangi, dalam format 3inch CDR 11 tahun silam. Sebutan itu kemudian semakin menebal ketika band ini melepaskan Renjana di tahun 2014. Dari rilisan-rilisan tersebut, banyak media dan pengamat terkejut dengan rilisan itu. Terlebih di dalamnya berisi tiap benda yang memproyeksikan ‘kemistikan’ itu.

Sekalipun Wednes Mandra (gitar, vokal) dan Judha Tempe (gitar) memutakhirkan konsep musik dengan menambah personel seperti Rudy di posisi gitar dan Bona Zustama (programmer, gitar) – terbaru –”, mereka mengangkat Guevara Tamtaka sebagai bassis – lalu merilis Potret Akhir yang Kusam' via Soundcloud disusul mini album "Tadahasih" predikat itu tak memudar.

RABU, yang baru saja merilis single baru berjudul “Hilangnya Kehangatan” masih dalam pusaran mistisme yang kental itu. Namun, lagu yang dirilis bersamaan dengan video lirik ke laman Youtube mereka ini jauh lebih gelap sekaligus mengerikan dibanding lagu-lagu dalam "Renjana".

"Tambahan personel itu membuat interpretasi terhadap mistisme jadi banyak dan cukup. Dari rekaman pun sebenarnya sudah tergolong aneh, ngobrol ke sana ke mari tiga jam lalu hanya menghabiskan waktu satu jam untuk take," beber Judha.

Lagu baru ini tidak sekadar menyajikan interpretasi lain terhadap klenik dan lain sebagainya. “Hilangnya Kehangatan” juga memperdengarkan hasil eksplorasi yang dirembuk lewat cara-cara yang paling demokratis. Dari menyusun bagian lagu, aransemen, memilah lalu memilih sound dan elemen suara. Salah satunya ketika menaruh chord berisi suara anak kecil.

"Idenya itu dari Bona, pengganti synth pad latar dari demo awal. Sekarang kami berlima, banyak elemen yang bisa ditampilkan. Kami juga bisa menjamah banyak kemungkinan. Misalnya di ambience banyak diisi oleh Bona lalu proses berpikirnya jadi lebih gampang. Produksi enak dan ketika rembukan ternyata asyik juga," sambung Wednes.

Lagu berdurasi enam menit dua puluh tiga detik ini diproduseri dan direkam di Pati Rasa Studio. Wahyu Martono berdaulat penuh sebagai juru rekam. Bona Zustama menyatukan lalu menyelaraskan audionya, termasuk suara vokal latar yang diisi Dinda Z Putri dan Caraka Obey. Sementara di bagian artwork diserahkan pada Guevara.

"Untuk artwork jalannya sesuai arahan Wednes tetapi disesuaikan dengan gayaku. Awalnya mau pakai AI, tapi kami tidak setuju karena konsepnya mudah dicolong. Tiap elemen dalam lagu saya usahakan ada, mau pakai elemen tengkorak tetapi tidak estetik. Bisa dibilang semuanya, dari musik sampai artwork kerja bareng-bareng," tandas Guevara.

“Hilangnya Kehangatan” dirilis di bawah bendera mereka sendiri lalu disebarluaskan ke platform digital lewat Jonotify. Video lirik juga digarap sendiri, mengedepankan kemuraman yang acap kali diterjemahkan sebagai mistisme sekalipun mereka tidak pernah berharap demikian.

BACA JUGA - SCARS Awali Debut dengan Rilis Sepasang Single ‘Drowning in Revenge and Anger’

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner