‘Riuh’ dan Cara Feby Putri Berkontemplasi Melalui Musik
Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Feby Putri
Album ‘Riuh’ menjadi karya kontemplasi yang dedikasikan kepada mereka yang tetap tegar berdiri dan berjuang menjadi dirinya sendiri
Feby Putri, solois muda kelahiran 2000 – salah satu dari sekian banyak musisi yang mewakili generasi X Y Z – dikenal juga penulis. Mulai muncul ke permukaan di kancah permusikan Indonesia sejak perilisan karya pertamanya yang berjudul “Halu” di tahun 2019 lalu. Dilanjutkan dengan empat buah tunggalan yang dilewarkan pada tahun 2020, penjelajahan Feby memberi corak tersendiri di Industri musik tanah air terbayar lunas dengan dirilisnya album perdana bertajuk Riuh yang berisikan 10 lagu di dalamnya.
Mengurai makna kontemplasi, renungan yang dihasilkan sebagai metode penjernihan kembali hati dan pikiran. Nada tak beraturan dan irama yang kemudian berhasil menghadirkan getaran suara, memenuhi ruang. Kumpulan suara absurd sekalipun tetaplah bunyi. Pikiran yang dipresentasikan oleh Melodi, Tangga Nada, Tempo, Harmoni, Birama, Irama dan Dinamika yang selalu bertabrakan seperti halnya refleksi getaran suara pada ruang, dan pada momen itu juga tanpa memedulikan sekitarnya tetap berjalan dan hanya melihat ke depan.
Tahun macan air, proses mencipta karya Feby Putri kian berkecambah. Album perdananya bertajuk Riuh adalah bukti ia mulai semakin mantap melanjutkan perjalanan yang masih hijau di industri musik Indonesia.
Menyegarkan ingatan pembaca, dara muda kelahiran 2000 ini dikenal sebagai seorang content creator dan selebgram menuai respon positif semenjak ia merilis karya pertamanya berjudul “Halu” pada tahun 2019.
Menaburkan empat tunggalan yang sudah lebih dahulu Feby perkenalkan pada tahun 2020, album Riuh berisikan 10 buah lagu di dalamnya, empat diantaranya; “Halu”, “Usik”, “Cahaya”, dan “Liar Angin”, dan enam lagu baru lainnya; “Rantau”, “Alih”, “Dera”, “Awal”, “Diri”, dan “Berkesudahan” membulatkan album perdananya.
Dalam album perdananya, Feby Putri membagikan kisah perjalanan perantauannya yang dibalut dengan doa dan harapan di setiap prosesnya. Album ini mengisahkan keriuhan serta kegelisahan di dalam diri yang dibungkus secara sinergis dalam paduan musik dan lirik di setiap lagu di dalamnya.
Album Riuh dianalogikan sebagai kotak kecil nan gelap yang memaksa dirinya untuk berani merasakan banyak hal dalam dirinya, sebagaimana tema besar dalam album ini turut digambarkan melalui artwork album perdananya. “Rantau” sebagai lagu yang difokuskan pada album ini diekspresikan sebagai proses perjalanan yang Feby Putri lalui melalui medium yang ia nikmati. Dalam liriknya terlantun rasa asing, upaya, hingga harapan yang mampu menggambarkan album Riuh secara menyeluruh. Album Riuh menjadi karya kontemplasi untuk seseorang berdiri dan berjuang menjadi dirinya sendiri.
Pada proses pembuatan album Riuh, Feby Putri turut bekerja sama dengan Owie Norki, Adam Febrian, dan Dhitsaha Samasta selaku perancang musik (arranger). Bukan hanya mampu menyajikan warna baru di setiap lagu yang ia lirihkan, penulisan lirik, yang sepenuhnya ditulis oleh Feby Putri, pada album perdananya ini juga menjadi salah satu hal menarik untuk diperhatikan dalam album ini.
Melalui Riuh, Feby Putri merangkum kisahnya dengan berbagai sudut pandang di tiap lagu-lagu yang ia sajikan. Mulai dari sebuah proses jatuh-bangun dan bertahan, rasa rindu hingga asing dipadu jadi satu menjadi sebuah karya utuh.
Selain dipasarkan secara daring, album Riuh juga terlahir dalam format fisik CD yang bisa didapatkan pada situs resmi Feby Putri melalui byncrecords.com. Pada hari kelahiran album Riuh, Feby Putri juga turut akan meriliskan karya video lirik dari setiap lagu pada album tersebut melalui kanal YouTube-nya.
Dengan terlahirnya album Riuh diharapkan mampu menjadi penawar terbaik untuk para pendengar dalam menemani proses kontemplasinya. Semoga karya ini mampu berkenan di setiap pendengar. Selamat menikmati.
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah yang merupakan suatu proses bermeditasi merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. (Djuriatun 2011)
Comments (0)