Rona Merah Saudade di Single Perdananya, "Fantasía Roja"
Saudade adalah unit band instrumental asal Kendari, Sulawesi Tenggara yang beranggotakan Astika Elfakhri (gitar), Abdyllah Bachmid (gitar), dan Iryansyah Nasir (drum dan perkusi). Menggabungkan unsur klasik, Japanese rock, dan funk, mereka merilis “Fantasía Roja”. Rilisan ini diilhami dari proses workshop, berirama flamenco dengan sentuhan suasana Timur Tengah yang menyihir. Single perdana Saudade ini membawa mereka masuk ke dalam skena musik instrumental di Indonesia saat ini.

Inspirasi itu muncul ketika mendengarkqan progresi musik yang dimainkan Rodrigo y Gabriella dan Gipsy Kings pada suatu proses workshop. Kemudian, Astika memasukkan suguhan solo gitar flamenco di dua sesi dan bagian solo Abdyllah di pertengahan lagu yang sarat dengan suasana Timur Tengah. Sementara itu saat proses rekaman, Irsyansyah memasukkan instrumen pendukung berupa bebunyian yang berasal dari perkusi tambahan, seperti bongo, tamborin, dan shaker untuk mengeksplorasi, pun juga menguatkan alunan rumba dalam lagu yang diberi judul “Fantasía Roja” ini.
Pendengar akan ditutup dengan sebuah kejutan di bagian akhir. Lewat alunan nada (beat) yang solid, strumming cepat dari permainan gitar Astika dan Abdyllah membuat lagu ini merepresentasikan aura “merah” yang mereka daulat sebagai salah satu kata kunci dalam judul single ini.
Guratan visual yang tertoreh pada artwork untuk karya musik Sausade di single “Fantasía Roja” adalah hasil karya terbaik Astika yang juga seorang perupa, dengan media lukis patel minyak disapu di atas kertas. Tak lupa, lukisan pun diberi nama oleh sang pelukis, La Guitarra Con Sentido de Fantasía Roja, atau a Guitar With Sense of Red Fantasy, yang bertujuan memberikan nilai otentik tersendiri bagi rilisan perdana Saudade.
Sedikit cerita tentang Saudade, unit ini bermula dari jumpa pertama antara Astika dan Iryansyah yang ditunjuk sebagai pengiring lomba vokal grup suatu instansi pemerintah di Sulawesi Tenggara pada tahun 2017 lalu. Keduanya lalu sepakat untuk membentuk duo dengan dilatarbelakangi kesamaan pada genre yang sama, yakni flamenco dan musik latin. Cukup lama jalan berdua, posisi gitar masih terasa kosong, dan Iryansyah berinisiatif mengajak Abdyllah, seorang teman di komunitas musik Jepang yang didapuk sebagai tandem gitar Astika.
Saudade pada awalnya memainkan lagu-lagu milik Gipsy Kings, Rodrigo y Gabriella, Ben Woods, dan menggubah ulang lagu-lagu klasik, seperti "Speak Softly Love", "My Favorite Things", dan "Pistolero" ketika tampil di gigs lokal Kota Kendari. Sampai di tahun 2020, mereka memutuskan untuk meramu musik orisinil mereka dengan permainan gitar klasik yang kental dari Astika, dipadu permainan gitar Abdyllah dengan unsur Japanese rock yang kental, dengan kawalan drum bernuansa funk dan rock dari Iryansyah.
Comments (0)