Sebelum ‘Banal Semakin Binal’, The Jansen “Mereguk Anti Depresan Lagi”

Sebelum ‘Banal Semakin Binal’, The Jansen “Mereguk Anti Depresan Lagi”

Sumber foto : Diambil dari rilisan pers The Jansen

Lagu “Mereguk Anti Depresan Lagi” mengisyaratkan perkembangan musikal The Jansen di album barunya, dari punk rock bergaya klasik yang agresif menuju karya pop bertenaga bertempo sedang yang melodius

Sebuah album bisa menjadi artefak penting bagi sebuah band. Keberadaannya menjadi sebuah pembuktian konkrit jika band tersebut bisa menyajikan pola kreasi seru serta mengerucutkan kerangka imajinasi bermusiknya lewat sebuah album. Biasanya album pertama merupakan sebuah pembuktian, dan album kedua sebuah bentuk konsistensi. Lantas bagaimana dengan album ketiga? trio punk rock asal Bogor, The Jansen mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah komitmen mereka menjaga eksistensi bandnya di belantara musik tanah air.

Namun sebelum menjawab rasa penasaran pendengar akan album ketiga mereka, The Jansen terlebih dahulu merilis single “Mereguk Anti Depresan Lagi” ke permukaan, untuk menjembatani pendengar dengan album ketiganya.

Perkembangan kreatif kancah musik independen di Bogor membuat label rekaman demajors kembali menoleh ke kota hujan. Setelah merilis debut dari salah satu grup indie-rock paling menjanjikan, Swellow, kini giliran trio punk-rock The Jansen yang kembali muncul ke permukaan lewat single “Mereguk Anti Depresan Lagi”.

Trek tersebut, yang juga menjadi salah satu pilihan utama dalam ajang Jameson Connects Indonesia 2022, mengikuti dua singel sebelumnya “Dua Bilah Mata Pedang” dan “Sore di Kebun Raya” sebagai pengawal dari album ketiga mereka, Banal Semakin Binal yang akan dirilis dalam waktu dekat juga oleh demajors.

“Mereguk Anti Depresan Lagi” mengisyaratkan perkembangan musikal The Jansen di album barunya, dari punk rock bergaya klasik yang agresif menuju karya pop bertenaga bertempo sedang yang melodius. Semua tanpa meninggalkan akar ekspresi musik mereka yang membentang dari The Beatles hingga Ramones.

Tema lagu diinspirasi oleh berbagai kisah keseharian era modern dengan segala drama kehidupannya, yang dengan nyaman dituliskan dalam Bahasa Indonesia oleh Adji Pamungkas, pemain bas dan pembuat lirik utama The Jansen.

“Liriknya merupakan kolase berbagai kejadian masa lalu, kemudian bercampur dengan perasaan-perasaan yang dirasakan selama perjalanan kehidupan. Menjadi sekumpulan kata yang tidak berarti secara spesifik, diharapkan justru memberi ruang kepada pendengar untuk menafsir, untuk menjadi berarti sebagai miliknya sendiri,” jelas Adji.

Lirik dari Adji kemudian diterjemahkan menjadi rangkaian melodi oleh saudara kandungnya, Cintarama Bani Satria alias Tata, yang juga merupakan vokalis dan gitaris The Jansen.

“Lirik-lirik yang diberikan Adji ternyata menuntun saya jadi lebih melodius. Aduy pun menimpalinya dengan permainan drums yang lebih variatif. Hasilnya berbeda dengan lagu-lagu The Jansen sebelumnya,” jelas Tata.

Rekaman singel dan juga materi lain pengisi bakal album dilakukan di studio yang kini bisa dianggap sebagai dapur kreasi utama untuk kancah musik independen kota Bogor, Bens & Co. Studio. Dengan sosok Deni Noviandi bertanggung jawab terhadap produksinya.

“Kami sudah lama ingin bekerja sama dengan Deni, akhirnya kesampaian. Deni paham sekali estetika yang ingin kami capai. Sebelumnya dia banyak membantu musisi Bogor lain, seperti Swellow, Texpack dan Rrag,” tutur Adji.

Selain itu, sahabat mereka, Zeinita, pun diajak untuk mengisi vokal latar guna menambah suasana bittersweet yang terbangun di single ini. Artwork singel menampilkan karya perupa Mufti Priyanka alias Amenkcoy yang begitu khas gaya pengekspresiannya.

Cover artwork karya Amenkcoy

“Ini lagu cocok banget dengan karya-karyanya Amenkcoy. Tadinya kami berpikiran bikin commissioned artwork untuk lagu itu hanya buat grafis di kaos, tetapi karena lagunya jadi singel akhirnya jadi sampul rilisan,” cerita Adji.

Lagu dengan isian lirik menarik ini dikuatkan pula oleh suguan video musiknya, yang juga merupakan hasil dari ajang Jameson Connects Indonesia, dibuat oleh kolektif video muda berbakat bernama Gerombolan Struzzo, dengan sutradara Yustinus Kristianto. Video tersebut juga menampilkan cameo dari rekan-rekan sejawat The Jansen seperti Abyanza Nabilio (The Panturas), Adipati (The Kuda), Andresa Ridha Nugraha (The Battlebeats), Muhammad Fardian Hakim (CJ1000), Prabu Pramayougha (Saturday Night Karaoke), dan Imanbonyok (Breh and The Bangsat). Seperti apa video musiknya? Simak melalui tautan di bawah ini.

BACA JUGA - Kisah Tiga Babak For Revenge, Bermuara di Video Klip “Jeda”

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner