Semiotika Sajikan Sembilan Lagu Sarat Makna di Album ‘Eulogi’
Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Semiotika
Album Eulogi diisi dengan suguhan cerita personal nan ‘dalam’ yang kemudian dibagi dalam sembilan buah lagu yang mengetengahkan cerita sarat makna pula renungan di dalamnya
Akhir Juli 2021 lalu menjadi satu hal yang menjadi catatan tersendiri bagi trio post rock asal Kota Jambi, Semiotika. Pasalnya pada akhir bulan ini mereka merilis album keduanya yang berjudul Eulogi. Perilisan album ini menjadi special mengingat hal ini dilatari oleh bentuk apresiasi ke tiap individu yang sudah mendukung dari awal terbentuknya Semiotika, sampai akhirnya Semiotika bisa berdiri dengan pola kreasi yang mereka yakini lewat dukungan dari sahabat, yang terkasih, hingga para penikmat karya dari Semiotika. Sinergi menarik tersebut kemudian berbuah manis ketika akhirnya album Eulogi diluncurkan di Duniawi Coffee and Records Jambi, label yang juga ikut berkolaborasi di proses pembuatan album kedua Semiotika.
Di album ini, Riri (bass), Gembol (drum), dan Bibing (gitaris) menjalani proses pembuatan 9 lagu selama satu bulan secara mandiri, dengan bantuan beberapa teman. Diakui oleh mereka jika ide awal pembuatan album ini adalah tentang kebebasan sebagai individu yang hidup dengan esensi dan peran masing-masing. Tiap lagu di album Eulogi menggambarkan menjadi manusia dengan ikhtiar, tujuan dan rehat sejenak ketika lelah. Selain itu, perihal memanusiakan manusia juga jadi tema di dalam album ini, di mana dengan olahan kreasinya Semiotika hendak berpesan jika sebagai sesama manusia hendaknya kita selalu menyayangi serta mengapresiasi diri sendiri maupun orang lain.
Album dengan isian personal nan ‘dalam’ tersebut kemudian dibagi dalam sembilan buah lagu yang mengetengahkan cerita sarat makna pula renungan di dalamnya. Seperti misalnya lagu “Salam” yang bertema doa dan harapan di dalamnya dikuatkan juga dengan penambahan elemen musik Melayu Jambi. Hal ini direalisasikan bersama Lembaga olah seni dan budaya (Jelmu) Kota Seberang dan Khairul . Lalu ada lagu “Tatap Kata” yang berkisah tentang dialog sebagai medium dua perspektif yang berseberangan. Dilanjutkan dengan lagu “Temu Trah!” yang berkisah tentang keceriaan sebuah pertemuan dengan sahabat dan teman. Ada juga lagu “Sewajarnya” yang menjabarkan keinginan secara subjektif dan objektif dengan bersikap menerima keadaan.
Tidak sampai disana ‘perjalanan’ Semiotika menjelajahi nalar manusia dengan ‘hati’ berlanjut pula pada lagu “Rumah” yang memaparkan tempat di mana manusia memulai semua perjalanan dan ke mana akan kembali, setelah melalui jauhnya perjalanan. Tentang merindu dan dirindukan, berteduh dan berpeluh, hingga memadu cita dan cinta. Lalu ada lagu “Temaram” yang menceritakan tentang jeda dan beristirahat. Ada juga lagu “Jelang Terjaga” yang menggandeng nama Raphael Zoelvi, sebagai kolaborator di lagu ini. Secara musik, lagu ini merupakan kelanjutan dari komposisi salah satu lagu di album pertama (Ruang) berjudul “Tunggu Terpejam”. Sebagai antitesis, lagu ini bercerita tentang bersiap dan melanjutkan aktivitas.
Album ini kemudian ditutup oleh lagu “Pintas Waktu” dan “Dua Sisi” yang bercerita tentang rangkuman tentang manusia yang terus mengejar waktu yang berjalan, hingga dengan manis mengejawantahkan perasaan mengenai esensi dan eksistensi sebagai manusia.
Semiotika mengaku jika ada orang-orang di luar sana yang menunggu mereka untuk terus hidup dan berkarya. “Album inilah yang menjadi ungkapan terima kasih kami untuk mereka”, ucap Bibing. Ditambahkan pula oleh mereka jika album Eulogi merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan jalan hidup dan hubungan sosial yang diwakili dua aspek sebagai jawaban. Koeksistensi dan rasa syukur.
Comments (0)