"Sintas", Persembahan Tashoora untuk Para Pejuang Penolak Mati
sintas /sin-tas/ a terus bertahan hidup, mampu mempertahankan keberadaannya
Menjadi seorang penyintas yang harus melawan trauma pasca konflik tidak pernah mudah. Apapun bentuk konflik yang pernah dialami: perang, bencana alam, hingga berbagai diskriminasi dari rasial, jenis kelamin, body-shaming, perundungan dan lain-lain pasti menyisakan luka yang membutuhkan waktu untuk sembuh. Ada yang berhasil menyikapinya dan menjadi semakin terang, ada yang tenggelam dalam gelap.
Tashoora, yang kini diperkuat oleh Danang Joedodarmo, Dita Permatas, Gusti Arirang dan Ikhwan Hastanto menyoroti peristiwa tersebut hingga terlahirlah single bertajuk "Sintas". Lagu tersebut menangkap kisah bangkitnya para penyintas konflik yang juga berkontribusi langsung pada kemanusiaan di sekitarnya. "Sintas" diciptakan dari kerjasama antara Tashoora dan Narasi untuk digunakan sebagai soundtrack dari film serial berjudul The Invisible Heroes.
Serial dokumenter The Invisible Heroes dipersembahkan oleh Narasi dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Paramadina yang sudah bisa disaksikan lewat jaringan internet pada 11 Maret 2020. Film tersebut adalah rekam jejak perjuangan para penyintas konflik dalam menjalani hidup sehari-hari sembari berusaha melupakan bayangan kepahitan masa lalu.

Single "Sintas" sendiri dikerjakan selama satu bulan dan ditulis secara kolektif oleh seluruh personil. Tashoora berupaya untuk membawa perspektif sang penyintas dalam perjuangannya lepas dari bayang-bayang masa lalu, menolak "mati" dan menguatkan sesama sebagai pesan utama. Mereka sadar bahwa perjuangan para penyintas tidak hanya berkutat pada penguatan diri sendiri, tapi juga melawan stigma-stigma di masyarakat yang tak jarang merendahkan.
Untuk single "Sintas", Tashoora menggandeng Heston Prasetyo sebagai produser. Untuk proses mixing dikerjakan oleh Stevano, sementara mastering dikerjakan oleh Andy Miles di Stardelta Mastering, Britania Raya. Untuk rekamannya dilaksanakan di Bro's Studio, Jakarta Selatan.
Pesan yang terkandung dalam lagu "Sintas" juga coba disampaikan secara visual oleh Tashoora. Untuk itu, mereka kembali bekerjasama dengan Antonius Dian untuk merespon "Sintas". Ia menginterpretasikan "Sintas" lewat dua individu, satu berjubah kalender dan satu bertopeng lilin yang sedang beradu panco dalam sebuah kerangka kubus. Ia menganalogikan lilin sebagai harapan bagi penyintas, kalender sebagai perlambang momen-momen traumatis yang telah dilalui, adu panco adalah lambang perjuangan dan pertahanan, sementara kerangka kubus adalah batas ruang gerak yang dimiliki para penyintas.
Kini, lagu "Sintas" sudah bisa dinikmati melalui berbagai media musik daring, seperti Spotify, iTunes, JOOX, Deezer dan YouTube. Lagu ini menjadi karya pertama Tashoora di tahun 2020, sekaligus menjadi penanda atas bergabungnya Ikhwan Hastanto dalam Tashoora.
Comments (0)