‘S.O.S’ : Rilisan Berbahaya dari Indische Party, dan Penanda Bangkitnya Band ini

‘S.O.S’ : Rilisan Berbahaya dari Indische Party, dan Penanda Bangkitnya Band ini

Sumber Foto : Diambil dari rilisan pers Indische Party

Ibarat kapal karam yang terombang ambing hampir tenggelam, Indische Party terus berjuang dan berhasil menerjang badai untuk melepas album ketiga setelah 6 tahun dirilisnya album kedua

Perjalanan sebuah band dalam bermusik tentunya akan dihadapi dengan segala halang rintang, di mana faktor tersebut dapat mempengaruhi jalannya sebuah band, dari yang bisa bertahan, hiatus, atau bahkan sampai bubar. Menanggapi poin kedua, hal serupa juga dialami oleh Indische Party yang beberapa waktu ke belakang harus hiatus, dan baru-baru ini mereka kembali menyalurkan hasrat bermusiknya dengan merilis single (“Gadis Medusa”) dan yang terbaru adalah album S.O.S.

Sedikit tentang Indische Party, band ini didirikan di Jakarta tahun 2011 yang digawangi oleh Japs Shadiq (vocal), Tika Pramesti (drums), Andre Idris (gitar), Jacobus Dimas (bass) dan Warman Nasution (gitar). Indische Party mengusung aliran musik era 60-an dengan sentuhan rock n roll, blues dan surf rock. Setelah berdiri selama 12 tahun, Indische Party telah melepas dua album penuh, beberapa single dan dua EP dalam perjalanannya. Debut album mereka dirilis oleh Demajors Records dan sudah ada di pasaran awal Juni 2013.

Pada tahun 2015 Indische Party memenangkan kontes yang dihelat oleh Converse Rubber Tracks yang membawa mereka rekaman di studio Abbey Road, London. Semenjak tahun 2017, pasca dirilisnya album Analog tahun 2016, mereka langsung memulai workshop untuk beberapa lagu baru seperti "The Highest Stars" dan "Duka Akhir Kemarau" yang lebih dahulu dirilis sebagai single. Sebelumnya mereka juga sempat merilis single "Tell Me What To Do"  yang menggandeng Jimi Multhazam sebagai produser. Lagu-lagu lainnya menyusul hingga rampung direkam di awal tahun 2023. 

S.O.S adalah album penuh pertama yang melibatkan Warman Nasution sebagai gitaris sejak bergabung pada tahun 2018.

"Melalui album S.O.S kami menyuarakan musik yang selalu transformatif, bertahan melewati situasi krisis dengan karya yang makin bengis dan penuh nuansa magis. Sebuah pengingat untuk berpegang teguh pada tujuan dan impian dalam berkarya. Mengajak pendengarnya untuk masuk kembali menikmati ragam nuansa 60-an ala kami, Indische Party", ujar Japs Shadiq (vocal).

"Album ini secara keseluruhan melambangkan pendewasaan bermusik Indische Party, penuh penghayatan juga perkembangan secara musikalitas dalam aransemen lagu", ujar Jacobus Dimas (bass).

“Ibarat televisi, album ketiga Indische Party memiliki saturasi warna lebih banyak", tambah Warman Nasution (gitar).

Lirik-lirik di lagu-lagu Indische Party banyak berisi pengalaman sehari-hari, track balada seperti "Too many Love Song” dan "So Sweet Of You To Cry For Me" misalnya, tidak jauh dari realita kisah romantika skandal hubungan yang kandas dengan aransemen yang harmonis dan lebih manis dari lagu balada yang pernah dibuat Indische Party sebelumnya. Dalam “Too Many Love Song” untuk pertama kalinya Japs Shadiq dan Tika Pramesti berduet menembangkan lagu diiringi permainan piano ala klasik yang dimainkan oleh Warman Nasution. Tak ketinggalan tembang “Di Antara Rindu” melibatkan Yasintha Pattiasina mengisi aransemen biola yang memperindah aransemen lagu. 

"Duka Akhir Kemarau" diangkat dari kisah nyata Tika Pramesti kehilangan Ibunda di hari pernikahannya dengan Japs Shadiq. 

“Hari-hariku bagaikan tersesat, mencari bayangmu
Terima kasih kian tak cukup
Balas kasihmu tak habis seumur hidup di dunia”

Lirik yang ditulis Japs Shadiq itu menyentuh hati begitu dalam menembus kenangan yang tak tergantikan terhadap sosok Ibu yang telah tiada.

Namun lagu-lagu seperti "Dalam Tamanku Bersemi Bunga", terdengar lebih puitis mengeksplorasi rasa ketika mengalami pencerahan dalam pemikiran, dibalut dengan sayatan psikadelik gitar yang menambah dimensi baru untuk para pendengar setia Indische Party, sementara lagu "S.O.S" mengandung satir dan protes pada situasi pandemi. "Gadis Medusa" dengan lidahnya yang menggoda adalah metafora wanita penggoda yang bertebaran di sosial media, siap memangsa dan dimangsa. "Ditengah Badai" adalah lagu yang menjadi simbol Indische Party dalam perjuangan menembus segala rintangan untuk mewujudkan album penuh terbaru ini.

"Dengan proses yang melewati berbagai kendala dan jangka waktu yang cukup panjang, Indische Party berhasil melahirkan album yang jauh lebih matang", ujar Tika Pramesti (drums).

Album ini merupakan momen ‘comeback’ Indische Party, sebuah metamorphosis dari dua album sebelumnya. Ibarat kapal karam yang terombang ambing hampir tenggelam, Indische Party terus berjuang dan berhasil menerjang badai untuk melepas album ketiga setelah 6 tahun dirilisnya album kedua. 

11 lagu di album S.O.S adalah sebuah persembahan untuk para penggemar yang menunggu selama kurang lebih 6 tahun. Lewat album terbaru ini mereka berhasil memberikan dimensi baru dari segi penulisan lirik dan aransemen dengan tetap mempertahankan ciri khas Indische Party.

"S.O.S adalah album dari Indische Party yang paling berbahaya", pungkas Andre Idris (Guitar) 

Lebih di rekomendasikan untuk menikmati album ini secara keseluruhan, apalagi bagi kalian yang telah menunggu album terbaru Indische Party setelah album Analog. S.O.S sudah dapat dinikmati di berbagai layanan pemutar musik online kesayangan pembaca.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner