Tanana Kubra; Album Tarling Klasik Sang Maestro, Mama Djana
Sudjana Partarnian, atau yang lebih dikenal dengan Mama Djana merilis album bertajuk 'Tanana Kubra'. Ini adalah album berisi materi tarling klasik yang dirangkai sedemikian rupa hingga mampu membawa pendengarnya pada perenungan spiritual.
"Di usia senjanya, Mama Djana dan album Tanana Kubra, saya harap regenerasi kesenian musik seperti ini dapat dikembangkan. Dan menurut saya, Mama Djana layak dinobatkan menjadi salah satu ‘Sang Maestro’ musik tarling klasik tanah air. Terlepas dari mana kesenian ini berasal: Cirebon, Indramayu ataupun daerah lain sekitarnya, setiap kesenian haruslah tetap tumbuh dan berkembang, termasuk kesenian musik tarling klasik ini."
Gigi Priadji
Secara sadar atau tidak sadar, pernah dengar atau sayup-sayup diperdengarkan, peran musisi tarling (gitar dan suling) mungkin tidak terlalu mendapat tempat di khazanah musik nasional dibandingkan dengan pelantun syair atau penembang kesenian tarling itu sendiri. Bila berkenan menyebutkan, nama-nama penembang seperti Jayana, Abdul Ajib, Dariah, atau Sunarto adalah sederet ringkas nama yang identik dan lekat kaitannya dengan dunia tarling dibandingkan dengan nayaga pemain gitar dan peniup suling pada zamannya.
-1621321524.jpeg)
Namanya Sudjana Partarnian, di lingkup kesenian tradisional dikenal sebagai Mama Djana seorang pria kelahiran Cirebon sekitar tahun 1930-an. Beliau memang dikenal sebagai pemetik gitar handal dalam kesenian tarling. Darah seni mengalir deras dari sang Ibu yang mahir ber-macapat (melagukan nada ke empat atau empat-empat dalam puisi atau tembang tradisional Jawa) dan ayah yang pandai berpencak silat. Mama Djana justru memilih gitar sebagai jatuh cinta pertamanya yang kemudian ia tekuni selama hidupnya. Senar dan resonansi kayu menjadi hal yang cukup akrab dengan Mama Djana sejak ia berusia lima tahun.
Tanana Kubra adalah frasa yang berasal dari bahasa Cirebon yang artinya, “jangan sampai sirna”. Ini mengartikan sebuah isyarat bahwa keyakinan Mama Djana akan tarling klasik yang tak akan pernah lekang tergerus zaman yang termodernisasi. Dirilis pada 2 Mei lalu, berisikan 10 track, album ini syarat progesi dan scale tarling klasik bernuansa 1940-an.
Tanana Kubra tidak saja menyuguhkan bebunyian gitar semata. Rangkaian demi rangkaian komposisi nada di dalamnya menjadi satu kesatuan utuh yang akan membawa pendengar pada perenungan spiritual. Sebuah album yang tepat didengarkan bagi para pengembara / turis spiritual sebagai siraman rohani di tengah kusutnya para bigot menyuarakan pembenaran serta keunggulan agama dan keyakinan masing-masing.
Kembali ke Tanana Kubra, dalam sudut pandang teknis musik, album ini mampu merepresentasikan Cirebon secara geografis sebagi wilayah pesisir kota. Hal tersebut akan pendengar temukan dalam keindahan notasi bernuansa Sunda, Jawa, Arab, Cina, bahkan (berharmoni) dengan gaya Spanyol.

Realisasi album Tanana Kubra dalam format kaset C-30 Stereo dan digital yang merupakan buah implementasi kerja kolektif lintas wilayah. Kamarku Recording (Cirebon), Tilis Musik (Yogyakarta) dan segenap dukungan kawan baik dari Cirebon, Bali, dan Yogyakarta menjadi roda penggerak utama di balik sekelumit proses kerja album Tanana Kubra. Album ini digarap secara bertahap, mulai dari proses produksi dan mixing yang dilakukan di Cirebon, kemudian proses mastering, desain cover, hingga produksi duplikasi kaset pita diproses sekaligus dirilis oleh label musik asal kota Yogyakarta.
Album ini didedikasikan untuk mendiang istri tercinta alm. Entin Kartini, alm. Haniv Ghanim selaku rekan tercinta dalam proses produksi rekaman dan semua pihak yang telah mendukung secara langsung dan tidak langsung dalam penyelesaian. Dalam kesederhanaan, pesan singkat yang selalu Mama Djana ucapkan adalah "Titip budaya dewek, budaya Tanana Kubra” (titip budaya sendiri, budaya jangan sampai sirna).
Album Tanana Kubra format kaset yang dibuat terbatas ini dibanderol IDR 50.000 // EUR 5.00 (tidak termasuk ongkos kirim, baik skala domestik maupun pengiriman internasional).
Comments (0)