12 Pelajaran Penting dari DCDC x Hellshow “Killchestra” 2018

12 Pelajaran Penting dari DCDC x Hellshow “Killchestra” 2018

6. Pentingnya arsip dan portofolio
Beberapa bulan lalu, ketika talkshow di Warung Srawung, Malang, Ebenz sempat mengatakan, “Burgerkill itu bukan band besar, kami hanyalah band yang aktif!”

Pada DCDC x Hellshow “Killchestra” kemarin, Burgerkill menggelar eksibisi yang memamerkan seluruh diskografinya, mulai dari kaset demo, rilisan album dalam berbagai format, piringan hitam, hingga dokumentasi DVD dan buku, serta merchandise. Ada juga sudut yang memajang kumpulan foto dan artwork sepanjang 23 tahun karir Burgerkill. Layaknya sebuah ruang museum, segala jenis memorabilia Burgerkill melimpah ruah di sana.

Band dengan segudang karya dan pencapaian memang cukup layak ‘memamerkan’ curriculum vitae dan portofolionya. Setiap band juga kudunya bisa melakukan hal yang sama; mulai memikirkan pentingnya menyimpan arsip dan dokumentasi sebagai bagian dari sejarahnya sendiri dan scene musik lebih luas.

7. Menjaga momentum
Mencuri momen memang kadang perlu untuk menarik perhatian dan bikin hari itu menjadi lebih spesial. Pada DCDC x Hellshow “Killchestra”, Burgerkill melepas album teranyar Adamantine dalam jumlah terbatas – lima hari sebelum dirilis resmi pada tanggal yang bersandi “420”.

Konon, hanya ada 250 keping CD Adamantine yang dilepas hari itu. Kabarnya, antrian pembeli sudah rapat sedari pagi, apalagi satu orang hanya boleh beli satu keping saja. Hasilnya, ludes dalam sekejap. Hal yang sama juga terjadi pada stok kaus Adamantine dan official merchandise Hellshow 2018.    

9. Setlist yang adil
Burgerkill punya waktu dua jam di panggung utama untuk memuaskan semua golongan penggemarnya. Tentu, Ebenz dkk tidak mau memainkan setlist yang sama seperti di setiap turnya atau pas manggung di akhir pekan.

Malam itu, Burgerkill membagi aksi panggungnya dalam tiga set yang kokoh.

Set pertama adalah sesi lagu-lagu lawas dan klasik Burgerkill untuk para begundal yang fanatik: “Darah Hitam Kebencian”, “Under the Scars”, “Sakit Jiwa”, “Shadow of Sorrow”, “Rendah”, dan “House of Greed”.

Sesi kedua adalah tembang-tembang Burgerkill dalam format orkestra: “Anjing Tanah”, “Penjara Batin”, “Only the Strong”, “Angkuh”, “Tiga Titik Hitam” dan “An Elegy”. Dua lagu terakhir turut menampilkan suara vokal Fadly (Padi / Musikimia).

Pada set ketiga, Burgerkill kembali memuntahkan distorsinya lewat “Pledge To Fight”, “Integral”, “Undefeated”, “Air Mata Api” (Iwan Fals cover), hingga “Atur Aku” (Puppen cover) sebagai pamungkas. No encore!

Cukup adil, bukan?!      

10. Metalhead juga boleh menangis
“...Saya meneteskan air mata semalam saat lagu ‘Tiga Titik Hitam’ dibawakan bersama Fadly Padi. Merinding,” aku Stephanus Adjie sehari setelah perhelatan DCDC x Hellshow “Killchestra”. Vokalis Down For Life itu tidak sendirian. Boit (Omuniuum) juga mengaku menangis pada momen tersebut, karena teringat pada (alm) Ivan Scumbag dan kekasihnya yang pernah bekerja bersama dirinya.

Set lagu “Tiga Titik Hitam” yang digubah dalam format orkestra itu memang terasa yang paling emosional. Apalagi pada screen juga kerap terpampang foto (alm) Ivan Scumbag. Beberapa penonton di baris depan terdengar ikut memanggil-manggil nama mendiang vokalis Burgerkill tersebut. Saya pun ikut terharu dan merinding di sana. Gila vibe-nya.

Konon, beberapa orang—terutama yang kenal lama dan bersahabat dengan (alm) Ivan Scumbag—juga mengaku mengalami momen yang paling haru serta emosional pada bagian ini.

Wajar, metalhead juga manusia...      

11. Kelar pertunjukan, siap lahir karya baru lagi
Satu janji yang sempat saya curi dengar dari ‘orang dalam’ bahwa penampilan Burgerkill malam itu diabadikan secara audio-visual. Kabarnya, direkam komplit dan serius untuk kemudian dikemas dalam bentuk rilisan dokumentasi DVD. 

“Lumayan, buat nambah portofolio...” celetuk salah seorang personel Burgerkill sembari tersenyum. Oke, band ini memang enerjinya besar. One leads to another.

12. Give back to the scene
DCDC x Hellshow “Killchestra” kalau mau dianggap semacam ‘CSR’-nya Burgerkill juga bisa. Sebab dari situ, mereka sanggup merangkai mata rantai yang lebih kuat untuk komunitasnya. Paling tidak, Burgerkill tidak melupakan dari mana mereka berasal dan tumbuh bersama. Mereka bikin momen spesial untuk mengumpulkan teman, sahabat, kolega dan komunitas metal untuk berbagi semangat serta kegembiraan. Itu juga yang paling menyenangkan dari komunitas metal; selalu loyal dan penuh solidaritas. Such as a brotherhood in metal way.

Samack

Samack lahir dan tumbuh di kota Malang. Sempat menerbitkan Mindblast fanzine (1996-1998) dan situs musik Apokalip (2007-2010). Tulisannya seputar musik dan budaya pop pernah dimuat di Jakartabeat, Supermusic, The Metal Rebel, Rolling Stone Indonesia, Vice Indonesia, Warning Magz, Whiteboard Journal, GeMusik, serta berbagai media lainnya. Sesekali menjadi editor untuk sejumlah buku dan penerbitan. Saat ini beraktifitas di bawah institusi Solidrock serta mengelola distribusi rekaman bersama @demajors_mlg.

View Comments (1)

Comments (1)

  • Enodimedjo
    Enodimedjo
    25 May 2018
You must be logged in to comment.
Load More

spinner