4 Album Reissue Indonesia Favorit di Tahun 2019

4 Album Reissue Indonesia Favorit di Tahun 2019

1. Blacklight – Koil (Vinyl 12”, Grimloc Records)

koil-dok.grimloc

Apa lagi yang perlu saya jelaskan mengenai album yang digdaya ini?! Album terbaiknya Koil? Bisa jadi. Album Koil yang paling politis? Tentu saja. Standar produksi musik yang megah dan sulit dicari tandingannya? Silakan bantah (kalau mampu!). Level tertinggi Otong dalam menulis lirik (atau merangkai kata yang pas, menurutnya)? Uhm, coba cari satu baris yang sudah tidak relevan dengan kondisi bangsa hari ini.

Terus terang, sulit mencari kelemahan atau cacat pada Blacklight. Sejak dirilis tahun 2007 silam dengan sokongan pabrik wiski yang berpusat di Tennessee (US) dan dibagikan gratis lewat franchise majalah musik ternama di Indonesia, album ini sontak menjadi highlight dengan potensi berstatus klasik secara instan di hari pertamanya terbit.

Beberapa tahun berlalu, lagu-lagu di Blacklight masih berkumandang di setiap pertunjukan Koil. Juga diputar kencang di kamar-kamar kos para mahasiswa dan kelas pekerja, bilik kantor yang sempit dan masih saja ditekan deadline, playlist kedai kopi langganan anak indie, hingga di ruang-ruang karaoke para milenial yang kebanyakan Anggur Merah.

Edisi plat Blacklight rilisan Grimloc ini memuat dua keping vinyl berisi lagu-lagu yang sudah di-remastered, plus bonus track dan special remixes. Ditambah dengan buklet dan poster gede yang didesain secara artistik serta memukau. Pada lampiran vinyl ini, Ucok Homicide a.k.a Herry Sutresna menulis catatan pinggir yang cukup apik soal Otong dkk, Blacklight, serta “sekte pemuja Depeche Mode” ini. Dicetak terbatas hanya sebanyak 500 kopi saja, sontak edisi reissue ini menambah antusiasme dan kepanikan para penggemar Koil.

Sejak kiriman paket vinyl ini sampai di rumah saya di Malang, saya langsung yakin kalau Grimloc Records dan Koil telah membuat format album reissue terbaik di tahun ini, kalau bukan untuk selamanya. Kita tidak mungkin bisa menolak sorotan cahaya hitam yang terus bersinar terang seperti ini.     

Samack lahir dan tumbuh di kota Malang. Sempat menerbitkan Mindblast Fanzine (1996-1998) dan situs musik Apokalip (2007-2010). Tulisannya seputar musik dan budaya pop pernah dimuat di Jakartabeat, The Metal Rebel, Rolling Stone Indonesia, Vice Indonesia, Warning Magz, Whiteboard Journal, GeMusik, serta berbagai media lainnya. Sesekali menjadi editor untuk sejumlah buku dan penerbitan. Saat ini beraktivitas di bawah institusi Solidrock serta mengelola distribusi rekaman bersama @demajors_mlg.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner