Adil-lah, Niscaya kan Merdeka Seutuhnya!

Adil-lah, Niscaya kan Merdeka Seutuhnya!


Penari dari Desa Miau Baru | Dokumentasi pribadi Akbar Haka

Saat berada di Den Haag, Belanda, seorang ibu paruh baya setengah berteriak memanggil saya, mengajak makan di mejanya. "Indonesia?" tanyanya. "Yap," saya menjawab. Lalu, dia berkata, "Kalian adalah bangsa yang hebat! Hidup terpisahkan oleh pulau-pulau, berbeda-beda suku dan adat istiadat, namun bisa hidup rukun dengan satu bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia." Sedangkan mereka hanya berbeda jarak 3-4 jam sudah berganti bahasa dan negara.

Namun, lebih dari itu, saya cukup bersyukur tinggal di negara ini. Kita bisa menghabiskan berpuntung-puntung rokok sambil ketawa haha hihi berjam-jam tanpa harus buru-buru masuk ke dalam ruangan seperti masyarakat Eropa lakukan untuk menghangatkan diri.

Kemudian, persepsi liar saya juga berandai andai: "Jika saja pemimpin negara ini serius menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945 tentang keinginan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", tentu tak ada lagi anak-anak daerah yang cemburu dengan ibu kota Jakarta yang eskalasinya penuh sesak  kekenyangan dengan pembangunan yang tiada henti-hentinya.

Siumanlah wahai pemimpin-pemimpin Indonesia! Bukalah mata, berlatihlah meng-iba kan hati. Indonesia bukan hanya Jakarta, ada Pulau Jawa, ada Sulawesi, Sumatera, Kalimantan bahkan Papua!

Marilah berlaku adil dimulai sejak perayaan 74 tahun Indonesia merdeka, maka "Tanah Surga" ini akan merayakan merdeka yang seutuhnya!

 

Salam dari Timur Belantara Borneo.
Dirgahayu Indonesia Tercinta
Tenggarong, Agustus 2019

Akbar Haka lahir di Tenggarong, 19 Februari 1983. Anak ketiga dari 4 bersaudara dan Ayahnya Drs. Halidin Katung yang disingkat menjadi akhiran namanya "Haka" adalah seorang gitaris band rock terkenal di Kalimantan Timur - D'Gilz pada medio akhir 1970-an. Selepas menamatkan SMA 1 Tenggarong pada tahun 2000, Akbar merantau ke Bandung hingga 2005, lalu pindah ke Jakarta (2005-2007), lalu kembali menetap di Tenggarong sebagai kecintaannya pada kampung halaman dan bercita-cita meledakkan nama Tenggarong, Kutai Kartanegara di Peta Musik Keras Nasional.

Perlahan cita-citanya terwujud saat mendirikan Kapital (2005) sampai sekarang, dan telah memiliki 6 album penuh, mewakili Indonesia dalam Heartown Rock Fest Taiwan 2018, dan saat ini sedang berproses untuk album ke tujuh "MANTRA".

Membentuk skena musik keras di Tenggarong bernama "Distorsi" yang kemudian melahirkan event rock berskala internasional KUKAR (Kutai Kartanegara) Rock In Fest dan ROCK IN BORNEO yang tercatat dalam rekor MURI sebagai festival rock terbesar dan gratis di Indonesia dengan catatan 80 ribu penonton.Juga aktif tercatat sebagai Music Director untuk Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur yang membawa Akbar Haka bersama sanggar-sanggar Tari Dayak atau pun Kutai berkeliling Eropa sebanyak dua kali, kemudian Shanghai, Vietnam, Singapura dan beberapa pertunjukan tradisi di dalam dan luar negeri.

Terobsesi oleh hampir semua karya tulis dari Tan Malaka, dan yang paling melekat dalam persepsi Akbar Haka adalah Terbentur, Terbentur, Terbentur...... Terbentuk!

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner