Anak Muda, “Orang Tua”, Musik Indonesia, dan Hari Ini

Anak Muda, “Orang Tua”, Musik Indonesia, dan Hari Ini

Sensasi menemukan hal menarik di sekitar kita memang harus disebarkan; semangat itu sudah menjadi tradisi yang panjang bila dibeberkan di sini. Setidaknya, ketika tergabung menjadi keyboardist The Upstairs, setelah sebelumnya saya terpana menonton mereka berlatih di studio, saya bahkan sampai memberikan CD mini album Antahberantah sebagai hadiah sembari bersalaman di pelaminan pernikahan seorang teman. Atau ketika mendapatkan dahsyatnya musik Efek Rumah Kaca, saya menyebut-nyebut tentang mereka saat berkesempatan menulis di majalah Ripple walau band itu relatif masih hanya menulis lagu dan belatih di studio, dan kemudian berinisiatif merilis album kompilasi Paviliun Do Re Mi untuk memasukkan lagu “Di Udara” dan “Melankolia” di sana. Hingga untuk acara berbagi presentasi karya kreatif di kantor periklanan dahulu, dengan semangatnya saya memperkenalkan paket utuh band indie rock Bandempo—mulai dari musik, fashion, merchandise, video musik, hingga kemasan albumnya (pada kesempatan pertemuan berikutnya, saya mempresentasikan komik super-mini, kurang lebih seukuran kotak geretan, dengan teks komedi absurd: “Samsudin dan Kereta Api” karya oomleo).    

Hari ini merayakan sesukaan-kesukaan di sekitar kita sudah tiba di level yang sangat langsung ketika dengan teknologi semudah itu kita bisa berbagi. Bolehlah kita tak selalu peduli dengan tren topik di media sosial untuk menampilkan apa yang secara individual kita dukung dan nikmati.

Membaca hal-hal di atas mungkin sebagiannya cuma bernostalgia. Tapi ternyata nostalgia, atau dalam bahasa lain yang lebih luas diterima adalah melihat jejak sejarah personal, disengaja atau tidak, justru sangat bisa jadi pemicu untuk terus melihat sekitar dan (merasa) muda.

Kejadian belakangan baru saja mampir kepada saya. Di Instagram, ada pedagang yang menjual majalah Trolley edisi Maret-April 2002. Sebetulnya, alasan utama membelinya adalah karena di sana ada sebuah iklan—dengan foto Otong Koil di panggung—berisi ucapan terima kasih dari sebuah pensi di Jakarta yang dilangsungkan pada 10 Maret 2002. Tanggal itu menjadi pengingat bahwa di saat itulah pertamakali mini album The Upstairs, Antahberantah dirilis dengan metode tangan ke tangan.

Harlan Boer adalah penulis, musisi, produser, dan seniman visual. Pernah tergabung bersama the Upstairs, C'mon Lennon, dan menjadi manajer band Efek Rumah Kaca. Sebagai singer-songwriter hingga kini sudah merilis sejumlah single, 4 mini album, dan 2 album penuh. Tinggal dan bekerja di Jakarta.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner