Anak Muda, “Orang Tua”, Musik Indonesia, dan Hari Ini

Anak Muda, “Orang Tua”, Musik Indonesia, dan Hari Ini

Hari itu, kaset baru jadi, sementara vokalis Jimi Multhazam dan rekan eratnya, Malau menjadi MC acara pensi—setahu saya adalah pertama kalinya mereka menjadi MC untuk acara anak muda sebesar itu. Delapan belas tahun kemudian, Jimi dan Malau malah dikenal mensabotase Youtube dengan program “Ngobryls”, mengobrol bersama para tamu mereka dengan cara berkomunikasi yang bisa dibilang tak banyak berubah dari awal penampilan mereka. Bearadptasi bukan masalah merubah persona, jauh lebih penting dari itu adalah tentang menambah ragam kolaborasi. Usia dan (maaf) muka “sesenior” itu terbukti masih bisa diterima.

Di majalah Trolley edisi itu juga saya menemukan foto Lukman “Buluk” saat berusia 27 tahun. Maju ke era sekarang, Buluk adalah heavy rotation di layar genggam kita—lengkap dengan pesan langsung maupun terselubung bahwa keadaan telah menemukan caranya untuk banyak maju dan sangat disayangkan bila masa muda tidak dilangsungkan secara gas pol untuk melakukan apa pun yang kita ingin wujudkan. Banyak faktor pendukung yang sudah sangat memungkinkan jadinya sebuah gagasan—dari hal produksi, promosi, dan distribusi.

Masih di majalah yang sama, kita bisa menemukan kerja seni berjejaring di era awal 2000 itu, berkomunikasi jarak jauh maupun melakukan pertemuan-pertemuan langsung, untuk menghasilkan hal bersama yang lebih solid—paling tidak telah terjalin di kota-kota besar. Bandingkan dengan sekarang, titik simpul begitu banyak di berbagai belahan Indonesia dan dunia, sementara bekerja bersama bisa sebegitu cepat dan kasual dengan spesialisasinya masing-masing. Terus menghidupinya adalah menjadi pilihan.

Kerja bersama anak muda dan “orang tua” pun tak pernah seterjalin sekarang (dengan teknologi komunikasi yang dahulu, tidak pernah kami bayangkan). Ketika bibit bijaksana juga bisa diterima dan diadaptasi oleh anak muda, sementara semangat dan terus mengikuti zaman bukan hal mustahil bagi “orang tua”. Berbagai generasi bukan hanya saling serap, tapi jalan bersama.

Oh, ya, ini mungkin penutupnya, karena hari sudah sore dan tulisan ini ditunggu redaksi: tentang jargon “go international” yang hampir jadi becandaan bersama dunia tanpa tepi, bisa saja ini momentum untuk semakin tak berjarak dengan standar dan ditengok penjuru bumi.

Harlan Boer adalah penulis, musisi, produser, dan seniman visual. Pernah tergabung bersama the Upstairs, C'mon Lennon, dan menjadi manajer band Efek Rumah Kaca. Sebagai singer-songwriter hingga kini sudah merilis sejumlah single, 4 mini album, dan 2 album penuh. Tinggal dan bekerja di Jakarta.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner