Buku dan Lirik, Dua Mata Pisau yang Sama Mematikan

Toko buku Palasari | Sumber: akun Facebook Toko Buku Palasari Bandung
Beberapa tahun dari situ, perburuan dimulai, dari perpustakaan milik pemerintah dan saya gagal mendapatkan apa yang saya cari. Atas saran teman area perburuan, saya fokuskan di pasar buku Palasari. Perlu waktu menunggu berbulan-bulan hingga akhirnya buku bekas karya Ernest Hemingway berhasil saya dapatkan. Walaupun bukan novel “For Whom the Bell Tolls” yang saya dapatkan, tapi novelnya yang berjudul “A Farewell to Arms”. Buku itu tidak sempat selesai dibaca karena saat itu membaca novel berbahasa asing terbilang memusingkan. Hingga akhirnya buku tersebut hilang entah kemana. Namun setidaknya kepenasaran saya terhadap Metallica bisa terjawab.

"A Farewell to Arms" karya Ernest Hemingway | Sumber: wikipedia.org
Bekal itulah yang selalu saya bawa ketika mulai serius bermain band bersama Forgotten. Karena adanya kebutuhan dan ditugaskan sebagai pembuat lirik, maka media eksplorasi saya adalah buku. Selain pengalaman langsung dari mengamati dan merasakan kondisi yang terjadi di sekitar, saya merasa pengalaman empiris juga diperlukan; pengalaman yang didapatkan dari membaca buku-buku teori. Karena kebetulan saja saat itu saya lebih tertarik pada tema-tema sosial dan politik, maka banyak buku teori yang menjadi pelengkap. Menjadi semacam pisau bedah sehingga segala hal yang terjadi bisa terjawab berdasarkan landasan teori.
Di tengah suasana rezim orba yang otoriter, maka kesempatan untuk mendapatkan buku-buku teori yang dinilai berseberangan dengan ideologi pemerintah sangatlah sulit dan tidak semua orang punya keberanian untuk membacanya. Biasanya, jika ada yang berhasil mendapatkan buku yang dilarang pemerintah, maka diam-diam kita mengundang teman-teman untuk berdiskusi tentang isi buku tersebut. Diskusi-diskusi bawah tanah yang membahas hal-hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Forum diskusi terlarang membicarakan hal-hal yang dilarang, seperti komunisme, atheisme, sosialisme, perlawanan akar rumput, pergerakan sosial bahkan teori-teori subversif. Dari situlah peran forum diskusi saya rasakan betul manfaatnya menjadi tambahan amunisi untuk mencipta lirik.
Comments (0)