Buku dan Lirik, Dua Mata Pisau yang Sama Mematikan

Buku dan Lirik, Dua Mata Pisau yang Sama Mematikan

Album pertama Forgotten, Future Syndrome adalah karya yang melewati semua proses tersebut. Lagu seperti “Coup d'état” dan “Burning Flag” adalah representasi petualangan empiris bersama buku dan aksi langsung turun ke jalan menumbangkan tiran. Proses ini terus berulang dan seolah berjalan selaras dengan proses kreatif bersama band Forgotten. Untuk album kedua, Obsesi Mati eksplorasi lirik difokuskan pada masalah psikososial dan psikoanalisis. Buku karya Sigmun Freud, Jean Piaget, Tolstoy menjadi amunisi penting dalam proses penulisan lirik di album tersebut. Sementara di album Tuhan Telah Mati, tema yang diusung banyak beririsan dengan teori nihilis yang diusung oleh karya-karya dari Nietzsche, Sartre dan Al-Hallaj.


(berurutan) Sampul album Future Syndrome, Obsesi Mati dan Tiga Angka Enam dari Forgotten | Sumber: discogs.com

Ide mengenai tema album biasanya berjalan bersama proses pembuatan lagu, yang artinya tidak pernah ada rencana tentang tema apa yang diusung. Biasanya, sebelum proses membuat lagu saya terbiasa membuat narasi yang akan menjadi kerangka lirik lagu. Proses itu mulai dijalankan di album Tiga Angka Enam. Di album inilah saya mulai belajar dan mulai menikmati proses menulis selain menulis lirik. Narasi kerangka lirik itu lantas dicetak menjadi buku dengan judul yang sama.


Buku "Tiga Angka Enam" karya Addy Gembel | Sumber: goodreads.com

Karya musik termasuk lirik di dalamnya adalah sebuah karya seni yang dapat dipahami sebagai simbol dalam komunikasi. Musik dan komunikasi secara umum mempunyai kemampuan untuk mendukung atau bahkan menentang struktur sosial yang dominan, karena komunikasi dibentuk dari hasil kesepakatan kelompok masyarakat terkait simbol dan suara yang disepakati dan dipahami bersama. Hubungan antara musik dan masyarakat adalah hubungan kolektif yang timbal balik yang sifat hubungannya saling mempengaruhi.

Pesan yang disampaikan oleh lirik dalam sebuah lagu atau musik mempunyai banyak keterbatasan. Karena sifatnya yang ambigu dan penuh ekspresi ini menyebabkan bahasa sastra termasuk lirik cenderung untuk mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Karena itulah, maka sering terjadi misinterpretasi terkait makna sebuah lirik.

Seniman, dalam hal ini pembuat lirik, haruslah siap dengan landasan teori dan kekuatan argumen ketika ada giliran kelompok masyarakat yang menggugat. Ibarat menggenggam pisau yang dapat diartikan macam-macam. Bisa dianggap hendak berbuat jahat, menyakiti diri sendiri atau hendak memotong bawang?

Ranah musik bawah tanah kota Bandung tidak akan pernah sama jika Addy Gembel tidak hadir di era '90an. Bersama grup musik ekstrim yang dinamai Forgotten, ia lantang menyuarakan hal-hal provokatif dan kontroversial, dengan dua jenis pilihan bahasa: frontal dan sangat frontal.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner