Death by Audio and Visual (A Place to Bury Strangers, Live in Jakarta)

Death by Audio and Visual (A Place to Bury Strangers, Live in Jakarta)

Oliver Ackermann, gitaris sekaligus vokalis band ini memang merupakan owner dari effect "Boutique" Death By Audio yang banyak digunakan gitaris-gitaris legendaris dan ikonik, seperti The Edge (U2), wall of sound God Kevin Shield (My Bloody Valentine), Danny Lohner (Nine Inch Nails), Thurstoon Moore (Sonic Youth), dan Lee Ranaldo (Sonic Youth) yang juga sempat membeli dan menggunakan FX produksi Oliver. Gitaris berambut gondrong berusia 43 tahun ini tetap enerjik dan destruktif dalam penampilannya di panggung, dengan gitar Fender Jaguar, layaknya adrenalin anak band berumur belasan tahun.


APTBS | Foto: Firman Oktaviawan (Mano)

Sebelumnya, saya mengira kalau doi belum memasuki kepala "4", melihat dari rupa fisik dan energi dia saat “menyiksa” gitar Jaguar dengan body tersisa setengah. Gitar yang ia gunakan tersebut terbelah dua akibat salah satu aksi panggung Oliver pada show mereka beberapa tahun silam, Pada saat ia melempar gitar dan gitar itu terjatuh, body dari gitar Jaguar itu terbagi menjadi dua. Setengahnya lagi (katanya) menjadi milik penonton, dan ia tetap menggunakan gitar "hancur" tersebut sampai saat ini.

Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan personil sekaligus pentolan band ini, dari awal sampai akhir penampilan mereka. Oh ya, hanya ada satu ucapan terima kasih dalam bahasa Indonesia yang diucapkan drummer baru mereka yang ber-gender wanita di sela repertoar. Permainannya sangat kostan dan powerful.

Aksi panggung dari Dion, bassist mereka juga tidak kalah liar dan sound bass yang dihasilkan juga tidak kalah unik dan berisik dengan Oliver. Mereka memang trio, tapi output yang dihasilkan lewat speaker PA layaknya "wall of sound” dengan banyak layer gitar dan pekiknya feedback terdengar hampir di sebagian besar lagu yang mereka bawakan. Konser APTBS ditutup dengan ritual penghancuran instrumen. Dion membanting bassnya, begitu juga Oliver yang "menyiksa" gitar Jaguar stengki-nya.


APTBS | Foto: Firman Oktaviawan (Mano)

Bicara tentang tata cahaya, bagi saya, Burgers seperti member ke-empat dari band trio ini yang bermain dengan tata cahaya yang disinkronkan dengan nuansa, tempo, ketukan sehingga menciptakan suatu atmosfer yang menyedot penonton seperti berada dalam dimensi lain. Saya seperti merasa sedang tidak menonton acara di Rossi Musik, tapi seperti di suatu tempat asing yang baru bagi saya. Pengalaman serupa juga banyak dirasakan oleh penonton yang sudah biasa menyaksikan acara di Rossi Musik yang memang sering dijadikan tempat perheletan berbagai konser musik skala lokal dan international. “Ini bukan kayak di Rossi anj*ng!”, begitu suara-suara sayup yang saya dengar di tengah atau di jeda repertoar APTBS.


APTBS | Foto: Firman Oktaviawan (Mano)

Setelah kepekakan berakhir, saya mendapat jawaban dari akar yang mereka mainkan. Sebenarnya, yang mereka sajikan adalah pengembangan dari apa yang The Jesus and Mary Chain mainkan di salah satu mahakarya mereka, Psychocandy, album yang dirilis Creation Recs pada tahun 1985. Album ini “sangat besar” untuk band-band yang bersangkutan dengan kebisingan yang “indah”, beat minimalis, bass line ala Joy Division’s trademark, Peter Hook dari sophomore album Unknown Pleasure, juga motorik beat dan spotanitas ala band krautrock seperti Neu! dan Can. Saya menyampaikan konklusi yang ada di kepala saya kepada Oliver, dan dia mengamini apa yang saya ucapkan.

Salah satu hal yang membuat saya respect dengan mereka adalah mereka tetap memegang etos Do-It-Yourself, seperti budaya trade saat saya member dia kaset KALA. Drummer mereka, Lia Simone Braswell (yang juga sempat bermain di Mars Volta) dengan cekatan langsung memberi saya kaset dari salah satu proyekannya. Suatu korelasi antara saya dan semua member APTBS adalah mereka masih menikmati musik dalam format kaset pita.

Sesampainya di rumah, album Psychocandy dalam cakram padat berwarna hitam pekat 12 inci berotasi berulang kali di turntable saya. Album ini lah yang menemani saya menulis artikel hingga menjelang subuh pada 23 Desember 2017.

-DAMAG menjelang subuh, 23 Desember 2017-

(unknown pleasure of psychocandy)

Vokalis dari band death metal Ibukota, Deadsquad.
Owner dari minor label dengan genre musik heterogen Alaium Records, fokus merilis album band dalam format kaset.
alaiumrecords@gmail.com
www.facebook.com/alaiumrecords

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner