"Eleven Heroes Sumatera and Asia Tour 2018" (Bagian Satu)
Tepat pukul 02.00 WIB, kami berpamitan dengan teman-teman Jambi Corpse Grinder dan melanjutkan perjalanan darat menuju kota Bengkulu. Setelah melalui perjalanan darat yang lumayan panjang dan sempat istirahat beberapa kali, akhirnya kami sampai di Pantai Panjang kota Bengkulu, venue tempat kami akan perform. Kami sound check sekitar pukul 15.30 WIB dan menghabiskan waktu satu jam lebih. Kami masih punya waktu untuk beristirahat di hotel sebelum memulai penampilan.
Nama venue tempat kami tampil adalah New Rainbow Club, sebuah tempat hiburan malam. Yang membuat menarik, tempat ini jarang sekali dipakai untuk menggelar event musik ekstrim. Rata-rata, mereka yang datang memang untuk menikmati "dunia gemerlap" dengan musik-musik elektronik. Biasanya, teman-teman di Bengkulu mengelar event musik ekstrim di daerah Curup, yaitu kota keduanya Bengkulu. Alhasil, banyak teman-teman dari Curup yang meramaikan event ini. Venue ini menjadi "tantangan" untuk kami, karena kami harus bisa mengajak semua orang untuk menikmati penampilan kami.
Di tengah show, kami mengajak dua orang bartender untuk berkolaborasi bersama kami. Di panggung, mereka beraksi dengan memainkan semburan api dari tabung gas kecil yang mereka bawa, bersamaan dengan lagu "Eleven Heroes". Sontak, semua perhatian tertuju pada satu titik dan kami berhasil membuat semua orang bersenang-senang malam itu.
Esok harinya sekitar pukul 08.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya yaitu Pekanbaru, dengan menggunakan dua mobil. Perjalanan yang lumayan ekstrim, melalui hutan dan jalan yang berkelok-kelok, tapi sesekali kami mendapatkan pemandangan yang menarik. Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, kami sampai di Pekanbaru dan istirahat sejenak di base camp milik Baron bersama teman-teman panitia. Sebenarnya, Baron sudah menyiapkan villa namun baru bisa kami akses esok pagi.
Sambil meluruskan kaki, kami ngobrol bersama teman-teman di Pekanbaru sampai pagi hari. Kami disambut oleh pagi yang cerah, dan ketika melihat halaman belakang yang lumayan luas, ide kami muncul: mencuci pakaian dan menjemurnya di sana. Baju kotor kami sudah menumpuk selama tur, jadi ini kesempatan yang harus kami manfaatkan. Setelah makan siang, sekitar pukul 14.00 WIB kami berangkat ke venue untuk sound check di Taman Budaya Pekanbaru.
Di tahun 2018 ini, Taman Budaya Pekanbaru baru bisa digunakan lagi untuk event musik ekstrim. Seperti halnya di Jambi, event terakhir yang mereka gelar berantakan karena beberapa orang yang berbuat onar. Bukan atas nama musik, kericuhan itu disebabkan oleh oknum geng motor yang memang sempat membuat resah. Alasan acara ini bisa digelar di tempat ini adalah berkat Dinas Budaya dan Pariwisata setempat yang sangat mendukung event seperti ini, dengan catatan tidak ada keributan. Lalu, Baron cs pada saat itu merangkul beberapa teman-teman geng motor yang sempat berbuat onar untuk diikutsertakan menjadi panitia penyelenggara.
Comments (0)