FOGFEST : Sebuah Tanggung Jawab Menemukan atau (Kembali) Membunuh Diri Kita
Merayakan Kebebasan dalam Militansi
Sebelum berlanjut ke respons ide itu di jejaring sosial, saya memutar arah lagi ke persoalan kenapa sebegitu pentingnya FOGFEST bagi kami dan kawan-kawan lain, bahkan yang mungkin merasa bukan bagian dari scene Black Metal di Indonesia, tapi menaruh perhatian padanya.
Pemilihan nama FOGFEST bukan tanpa alasan yang jelas, karena nama ini berkelindan erat dengan latar belakang kami sebagai bagian dari scene Black Metal, yang dalam kenyataannya masih sering dipertanyakan. Event ini lebih dari sekadar susunan acara pertunjukan music, karena didalamnya terkandung semangat filosofis, simbolis, dan sekaligus profitable, dengan perkiraan jumlah peserta yang besar dari berbagai lokasi. Acara ini akan diselenggarakan selama 2 hari 1 malam, dengan konsep camping, gathering, diskusi, screening film, merchandise booth, pameran artwork, dan tentu saja live music.
Sesuai namanya, FOGFEST merupakan sebuah upaya menghilangkan kabut yang selama ini menyelubungi scene Black Metal Nusantara. Ada banyak sekali keberagaman dari para musisi dan pendengarnya, yang seringkali menimbulkan perbedaan tafsir, dan mengaburkan pandangan ibarat kabut di belantara liar. Perbedaan atau pun perselisihan adalah hal wajar, dan sekiranya dapat dimaklumi apalagi jika ngomongin soal scene. Tapi apakah kita akan selamanya tertelan kabut itu dalam keterdiaman? sementara fakta di lapangan menunjukan begitu banyak antusiasme menyelenggarakan event-event Black Metal, atau musik bawah tanah di berbagai wilayah. Bukan sekadar di titik-titik itu saja.
FOGFEST adalah semacam upaya menemukan diri kita kembali sebagai pelaku scene Black Metal di Nusantara. Mengidentifikasi dan merayakan konsolidasi, menyelaraskan berbagai ketidaksepahaman tentang isu Black Metal selama ini, dan syukur-syukur menjalin rekonsiliasi. Segala perbedaan bukan untuk dihilangkan namun mari sama-sama merayakannya sambil perlahan menyingkap kabut yang selama ini menyelubungi.
Karena itulah FOGFEST akan menjadi event pertama dan sekaligus terakhir. Berhasil diselenggarakannya mungkin bisa menjadi semacam pembuktian bahwa para pelaku Black Metal, setidaknya punya ruang mengekspresikan kegusaran dan kegelisahannya selama ini. Kita menemukan diri kita hidup dan dipaksa berurusan dengan segala standar ideal di dalamnya. Apa yang kita jalani kebanyakan tak bermakna, padahal kita pada dasarnya bebas, tegar, dan ini menghadirkan satu pilihan utama eksistensial ; kita akan menjadi apa? Lalu akan ke mana? Selama absurditas itu merupa dalam wujud kabut yang kian menebal, bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai bagian dari Black Metal Nusantara?
Comments (0)