FOGFEST : Sebuah Tanggung Jawab Menemukan atau (Kembali) Membunuh Diri Kita

FOGFEST : Sebuah Tanggung Jawab Menemukan atau (Kembali) Membunuh Diri Kita

Sebaliknya, saya juga berani menyebut rencana ini sebagai upaya membunuh diri kita sendiri, jika ternyata tak jadi diselenggarakan. Semacam apokalips, tentang pertaruhan diri apakah akan terlahir kembali atau terus menerus berproses dalam kematian abadi. Memang, seorang filsuf Heidegger pernah menyatakan bahwa kematian adalah satu-satunya hal yang harus dilakukan manusia itu sendiri. “Ketika kulihat hanya Aku yang dapat menghadapi kematian, Aku mengakui bahwa diriku berbeda denganmu”. Kematian yang menjelang memaksa kita untuk melihat bahwa kita adalah eksistensi individu yang tak bisa disederhanakan dari sebuah eksistensi kerumunan. Masalahnya, apakah itu kematian yang membebaskan?

FOGFEST saya bayangkan sebagai sebuah perayaan dari kebebasan individu di scene, atau setidaknya kesempatan yang dimiliki oleh masing-masing dalam mencari kebebasan. Menegaskan bahwa kita ada dan tetap bergerak meskipun kematian membayang di segala sudut, entah dalam wujud industri, pasar, tren, atau semacamnya. Itu juga yang menjadi alasan saya menempatkan kutipan dari Abigor di awal tulisan ini. band Black Metal asal Austria ini pernah menyatakan bahwa segala bentuk karya seni bisa semakin kuat, dalam artian revolusioner jika itu merupakan pergerakan. FOGFEST adalah bagian dari titik konkret militansi pergerakan kami. Ingat juga bahwa event sekelas Wacken dulu dibangun dengan semangat militansi yang tinggi.

Selama ini memang ada event-event sejenis, tapi diselenggarakan dalam skala kecil, dalam artian tidak masif dan tersebar di beberapa wilayah. FOGFEST ini memberikan tawaran khusus sebagai sebuah event festival yang menggunakan bendera Black Metal Nusantara, dengan tujuan merengkuh seluruh pelaku scene dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal-hal kecil dan sederhana asalkan dibentuk dengan fondasi kuat niscaya dapat menghasilkan kekuatan yang lebih besar, dan sekali lagi, FOGFEST ini pun akan jadi yang perdana dan terakhir. Kapan lagi bisa hadir?

Hernandes Saranela

Hernandes Saranela merupakan pembuat film personal di bawah bendera kolektif Cinemarebel Yogyakarta. Vokalis dari band Punk DEMSTER & band Pagan Metal ENUMA ELISH. Juga menjadi pengajar film dan akting di salah satu kampus di Jogjakarta.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner