…Karena Hari Ini, Semua Mendadak Indie!
”Naik Daun” Musik Indie di Indonesia
Proses memegang kendali dan kembalinya pemahaman indie di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya tren “pengusaha” atau wirausaha di kalangan anak muda. Hal ini jelas terkait, karena secara tidak langsung pemanfaatan media sosial dalam berbisnis dan bergaul sejalan dan berimbas pada jenis-jenis usaha dan media promosi independen yang secara pergerakan dapat dilakukan dengan modal yang relatif kecil dan jauh lebih luas secara cakupan seperti pemanfaatan Instagram, web, dan juga YouYube.
Hal ini lah yang membuka lahan baru para creative content untuk memperluas market mereka, seperti yang dilakukan oleh YouTuber. Kemunculan dan pemanfaatan YouTube yang luar biasa, ditambah pemaksimalan media sosial yang lain membuat televisi menjadi ”nomor dua” saat ini. Anak muda pun—tanpa terkecuali pemusik yang memiliki idealisme tinggi dalam bermusik—semakin percaya diri dalam membuat konten konten band, cover musik, original song, dan semua itu dilakukan dan diarahkan oleh manajemen yang dibentuk oleh band indie sendiri.
Do-It-Yourself spirit pun perlahan muncul dan berkembang kembali tanpa bisa dikontrol oleh para perusahaan besar yang dulu menguasai bisnis musik, mulai dari manajemen sampai ke CD, merchandise, dan lain-lain. Ini juga jelas dipengaruhi oleh semakin mudahnya komunikasi yang terbangun berkat kemajuan teknologi. Akses promosi pun bisa dilakukan hanya dengan menggunakan telepon genggam yang sekarang sudah memiliki fitur-fitur yang luar biasa canggih.
Perumpaan yang pas dengan kondisi pergerakan dan pilihan musik saat ini adalah seperti menu makanan di sebuah meja makan. Dulu, menunya selalu sama, monoton dan tidak bervariasi sehingga penikmat makanan tersebut mau tidak mau harus dibiasakan dan menyukai rasa makanan tersebut sampai penikmat itu menyukai menu tersebut. Namun, saat ini perubahan terjadi di menu yang disuguhkan. Variasi makanan yang luar biasa banyak, sampai mungkin seorang penikmat tidak akan mampu menikmati makanan tersebut secara bersamaan. Menu yang banyak mengharuskan si penikmat memahami rasa sebuah menu sampai dia bisa menikmati menu yang lain dengan rasa yang jauh berbeda dan bervariasi.
Lalu, bagaimana kah nasib para penikmat? Anak muda yang memiliki jiwa pemberontakan dan labil akan sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan yang mnyuguhkan varian musik yang luar biasa banyak dan “keren” akan berpengaruh juga pada filosofi, gaya hidup, dan pemahaman yang didapat. Pada akhirnya, banyak penikmat musik muda yang “ikut ikutan”, “latah” tanpa mencerna terlebih dengan sabar tren yang sedang berlangsung, karena trend indie saat ini luarrrrrr biasa baik.
Namun, saat seseorang memiliki ilmu yang “tanggung” dalam pemahaman sebuah musik maka, akan bermunculan para hipster ataupun poser yang jelas adalah penikmat atau justru praktisi musik yang tidak memiliki jati diri (copycat) band atau tren musik tertentu. Misalnya, genre yang sedang naik daun dan memiliki banyak poser yaitu folk (nanti akan kita bahas lebih lanjut di artikel berikutnya). Sebagai bukti, banyak sekali bermunculan band yang menamakan genre mereka folk, bukan hanya di kota besar, tapi juga di daerah! (Terimakasih internet, yeaah!)
Tidak ada yang tahu seberapa lama pola promosi dan juga tren indie akan berada di puncak seperti ini. Mudah-mudahan tidak akan cepat berlalu. Selagi masih banyak waktu, gali lah sejarah dan juga pemahaman, baik filosofi musik dan teknikal di dalam genre indie yang kita pilih. Karena, keseimbangan pemahaman, spirit, sejarah dan teknik yang dimiliki seorang pemusik akan melahirkan produk musik dengan dengan imajinasi dan jiwa yang tidak terbatas.
Semoga sharing ini berguna, dan #salamindie!
Comments (7)