Mati Ketawa ala Tani Maju (Bagian 1)
“Kalau Joni itu anak grunge, aslinya,” kata pemilik Barongsai Records, Andi Alo, kepada saya sembari menyebut nama gitaris Tani Maju. “Dia itu suka Sonic Youth. Dulu pernah manggung di IKIP pakai rok segala...” tambahnya. Kebetulan Andi Alo juga pernah aktif di Opus 275, jadi ia sangat tahu selera dan keseharian personil Tani Maju.

Tani Maju - Foto: Alitopan Redbiter
Selera musik Joni cukup wajar kalau melihat dari generasi mana para personil Tani Maju itu berasal. Besar kemungkinan pada zaman bocahnya dulu mereka tumbuh dengan mendengarkan musik rock sampai metal, alternatif hingga grunge. Juga tentu rajin menonton tayangan MTV di layar kaca. Hampir pasti mereka juga sempat menggemari Van Halen, GNR, Metallica, Nirvana, atau bahkan Sepultura.
Namun, kita belum tahu dari mana gagasan Novan dkk memilih memainkan musik seperti Tani Maju. Padahal di era yang sama, anak-anak muda mungkin sedang keranjingan Korn, Slipknot, Linkin Park, atau Creed. Sementara sebagian Arek Malang justru membentuk band dengan irama musik yang lebih bising dan serius – sebut saja seperti Screaming Factor, Extreme Decay, C4, atau Begundal Lowokwaru.
Musik Tani Maju menjadi agak anomali dan ajaib dibanding band-band yang lain. Mereka menyuguhkan musik seperti yang dimainkan OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Mereka memilih ketipung dan kendang untuk beradu bunyi dengan melodi gitar ala Slash dan terompet malam tahun baru yang sudah tidak ada harganya lagi saat jarum jam menyentuh tanggal 1 Januari.
Kenorakan dangdut, deru rock, sampai riff metal bisa dikemas secara ngepop dan sarat akan guyonan lokal yang otomatis cocok dinikmati bareng sambil bergoyang. Komplit dengan lirik yang kocak dan diksi yang jenaka. Juga dandanan dan aksi teatrikal yang di luar nalar ketika manggung.
Saya jadi ingat sempat membaca salah satu bab di buku Modern Noise – Fluid Genres: Popular Music in Indonesia (1997-2001) karangan Jeremy Wallach. Di situ dijelaskan kalau fenomena musik dangdut underground atau 'orkes' adalah keunikan khas Indonesia. Sudah dangdut, underground pula. Tentu sangat merakyat. Dangdut underground ini merupakan hibrida musik dangdut dengan musik rock dan beragam aliran musik lain. Lirik jenaka dengan alunan lagu yang membuat pendengar tidak bisa tidak joged adalah daya tarik utama dari dangdut underground.

Tani Maju - Foto: Alitopan Redbiter
Uniknya lagi, hampir semua pengusung jenis musik ini memang lahir dan tumbuh dari lingkungan kampus. Sebut saja misalnya Pemuda Harapan Bangsa (Bandung), Kuch Kuch Hota Hai (Surabaya), The Panas Dalam (Bandung), atau Soekarmadjoe (Yogya).
Oke, itu fenomena yang menarik. Mungkin anak-anak muda itu sudah gerah dengan iklim kemahasiswaan yang sempat tegang di era senjakala Orde Baru. Setiap kampus mungkin sempat mengalami hal tersebut: aksi demo mahasiswa yang terjadi hampir setiap hari sampai rezim Soeharto tumbang. Setelah itu adalah masa Orde Reformasi, perubahan kabinet, ide-ide revolusioner, hingga kebebasan pers dan media.
Semua anak muda (baca: mahasiswa) seperti ingin menjadi aktifis dan berlagak sebagai agen perubahan bagi bangsa. Sementara di sekitar kampus ‘menara gading’ itu, masih ada sosok-sosok lain yang perlu cooling down dari lingkaran isu sosial-politik. Mereka yang pergaulannya lebih santai dan cair di kampus.
Sepertinya tepat di situ pula Tani Maju dibentuk. Mungkin dengan motif untuk menghibur diri sendiri dan teman-teman sekampus. Mungkin karena ben-benan jauh lebih menarik daripada memikirkan target SKS yang kurang, visi BEM yang terlalu melangit, atau merenungkan makna panji-panji Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bisa jadi tho?!
*****
Comments (1)