Mengapa Saya Menggawat-gawatkan Black Metal? (Bagian 2)
Adam Darski atau yang populer dengan nama “Nergal” tidak selamanya terjebak dalam perangkap identitas yang ditabalkan industri sebagai pelaku black metal yang sudah dari sononya mesti kelam, suram, atau malahan tak perlu seperti manusia pada umumnya. Perlahan, dia menanggalkan label-label membosankan dari media dengan membikin band folk Me and That Man dan merambah dari dunia bawah tanah ke dunia serba benderang. Lho, kok tahu-tahu dia menjadi salah satu juri di The Voice di Polandia? Kalau yang bertabiat awam dan gemar menghakimi layaknya kaum fundamentalis, biasanya mencerca vokalis Behemoth ini. Dasar sesat!

Nergal (Behemoth) - Foto: bravewords.com
Lho, tunggu dulu dong. Fenriiz dari Dark Throne pernah mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa black metal sekarang sudah tidak relevan. Itu lah kenapa dia lebih memainkan rock ‘n roll. Di beberapa hal lain, Dimmu Borgir misalnya, musiknya dulu sangat kuat sound Norway-nya, tapi album-album berikutnya sudah mulai ke symphonic dan sangat orchestra. Kostumnya sudah jauh dari kesan black metal yang full spike. Nah, dengan munculnya Nergal di TV nasional, ia menggeser jauh dari kesan yang Maha Setan menjadi public figure terkenal. Nergal sepertinya sadar kalau dengan black metal ia bisa menjual seninya.
Bisa jadi, karya-karya belakangan dari sebagian pelaku black metal itu tetap tidak terkooptasi: mereka tidak sesuai dengan skema dan skena apa pun, serta tidak dapat didamaikan atau dipecahkan. Musisi yang punya kesadaran diri dan berkarya untuk mendefenisikan ulang diri mereka. Bersifat fragmentaris, tidak bersifat konstitutif, bukan hiasan atau simbolisasi dari sesuatu yang lain. Tidak terjebak pada label-label murahan dari industri media. Sedang mengalami fase “kehilangan totalitas”; dan karena itu katastrofik.
Terlalu banyak pertanyaan di benak saya, karena itu lah saya di dalam tulisan ini pun hendak membagikannya bersamaan. Entah centang perentang yang silang sengkarut ini kian tak melebar ke mana-mana, mari lah kita sama-sama mencari jawabannya bersama, atau silakan diabaikan, ditinggalkan.
Jelasnya bagi saya, black metal masih merupakan pergerakan. Namun, jangan-jangan di saat bersamaan pun saya mengiyakannya semata sebagai musik; ekspresi berkesenian, di negeri kita, yang permai ini.
Header Photo: www.invisibleoranges.com
Comments (0)