“Mengenal Musik Braille”
Pastinya musik itu kan jadi seni yang bisa dinikmati oleh manusia, melalui proses pendengaran. Maka bagi yang memiliki keterbatasan dalam proses pendengaran, perlu dibutuhkan ‘alat’ atau proses khusus biar bisa menikmatinya dong. Selain bagi pihak pendengar, kebutuhan ‘alat’ khusus ini juga dibutuhkan buat yang pengen mainin alat musik dengan cara membaca notasi musik. Maka bagi yang memiliki keterbatasan dalam penghilatan, perlu dibuat cara khusus untuk mempermudah proses dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, musik braille melalui kode-kode khusus digunakan sebagai jalan tengah yang dicapai.
Dalam jurnalnya yang berjudul “Sistem Tulisan Brailler Internet”, tahun 2008, Didi Tarsidi menjelaskan bahwa Braille dikembangkan oleh Louis Braille pada tahun 1834. Braille merupakan sistem tulisan yang terdiri dari titik-titik timbul yang dimaksudkan untuk memungkinkan tunanetra membaca dengan cara diraba menggunakan ujung-ujung jari. Teknik yang sering digunakan oleh para tunanetra untuk membaca adalah dengan memanfaatkan indera pendengaran serta indera peraba, misalnya dengan menggunakan kode-kode braille. Jadi, untuk ngebentuk sistem komunikasi yang efektif dalam musik, diciptakanlah pengkodean khusus yang disebut notasi musik braille.
Notasi musik itu tidak hanya bisa dibaca oleh orang dengan kemampuan penglihatan yang ideal. Namun tunanetra pun dapat membaca not melalui proses belajar notasi musik braille. Ada istilah “enam titik domino” yang dijadiin kerangka utama penulisan kode braille. Kode ini bahkan digunakan militer untuk mengirim kode-kode rahasia.
Pada notasi braille, titik 1, 2, 4, 5 menentukan nama dari notasi yang dimainkan, sedangkan titik 3 dan 6 adalah nilai notasi yang menentukan panjang atau pendek notasi yang dimainkan.
Seperti kita ketahui, solmisasi dari musik secara berurutan adalah do-re-mi-fa sol-la-si-do. Standar solmisasi pada musik biasanya selalu dimulai pada kunci C Mayor. Urutan tangga nada C Mayor dalam penulisan huruf latin adalah: c - d - e - f - g - a – b. Sedangkan penulisan tangga nada tersebut apabila ditulis dalam huruf berawal dari huruf d, yaitu: d - e - f - g - h - i – j.


Skema ini jadi gambaran perbandingan notasi musik pada umumnya, notasi musik, dan abjad latin braille. Maka cara membaca notasinya adalah c – d – e – f – g – a – b (karena titik 6 terisi, maka kita menyanyikan not-not tersebut selama 1 ketukan). Dengan kata lain, ketika menemukan susunan titik huruf “d” pada braille dibaca “c”, dan seterusnya.
Penciptaan kode untuk musik braille ini tentu saja sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan musik bagi tunanetra. Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional melalui Bagian Proyek Peningkatan Pendidikan Bagi Tunanetra Tahun Anggaran 2000, telah menyelenggarakan “Seminar Pembakuan Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik dan Pembinaan Pendidikan Musik bagi Tunanetra”. Jadi hal ini punya nilai kepentingan yang tinggi buat pengembangan musik.
Pada dasarnya potensi musikal tunanetra tidak berbeda dari orang dengan sistem penglihatan yang baik (awas). Namun sistem pengembangan pendidikan musik bagi mereka kurang optimal, karya musik mereka belum mendapat tempat di masyarakat. Di samping itu, belum tersedianya buku sumber dan bahan penyerta yang dapat diakses oleh tunanetra sebagai akibat dari masih sangat terbatasnya ‘Simbol Braille Musik’ di Indonesia merupakan faktor utama penyebab kegagalan pendidikan musik bagi tunanetra.
Tapi, di depan nanti sih pasti musik braille ini akan berkembang, akan maju, akan mengisi referensi musik-musik di Indonesia. Karena mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan memiliki kesempatan yang sama, apalagi soal musik, sangat universal banget. Siapa tau nanti bakalan ada sebuah karakter musik yang punya ciri khas, yang khusus yang tercipta dari mereka yang tidak awas.
Photos Courtesy :
library.tsbvi.edu
http://pinterest.com
Ray Charles photo taken from : forums.guitarnoise.com
Comments (0)