Mengurai Mimpi dari Soreang ke Jerman (Bagian Dua)
Taring
Foto didapatkan dari Taring
Ketika dulu menggarap Orkestrasi Kontra Senyap (2016), Taring punya waktu yang lebih banyak untuk menulis musik dan merekam album yang seharusnya sudah mereka kerjakan sedari awal. Hasilnya adalah materi musik hardcore yang tergarap matang bertabur aneka corak dan dibalut dengan konsep cerita yang cukup kuat. Orkestrasi Kontra Senyap sempat menunjukkan daya eksplorasi yang lebih jauh pada struktur musik mereka. Campur tangan produser Agung Hellfrog (Burgerkill) tampaknya juga memberikan pengaruh yang signifikan. Saya suka pada progresi kord sampai corak ketukan dari balik set drum-nya. Lumayan seksi dan tak tertebak. Vokalisnya pun bernyanyi dengan baik dalam narasi personal yang melantunkan bait-bait tentang ibu, gairah bermusik, hingga stori hidup yang, katanya, turut serta “mematangkan derita dan murka”. Progres juga tampak dari single terakhirnya, “Slaptika” (2017). Tembang itu meledak-ledak bak molotov. Galak dan juga terarah. Sarat akan chant dan kepalan tangan pengobar semangat. Taring hari ini tentu sudah tumbuh lebih tajam dan berpotensi menggigit lebih dalam.
Tonton video musik “Slaptika” berikut:
Comments (0)