Mengurai Mimpi dari Soreang ke Jerman (Bagian Satu)
Kapital

Foto didapatkan dari Kapital
Kapital selalu menghadirkan setangkup sentimentalia dalam setiap komposisi metal yang mereka gubah. Entah itu singing parts yang dilantunkan dengan merdu atau nuansa tradisi Borneo yang dikemas dengan padu. Pada dasarnya Kapital memainkan musik metalcore dengan sodokan hardcore dan sensibilitas etnik yang kuat. Melodius sekaligus garang. Modern sekaligus tribal. Mereka bak teror dari belantara – persis seperti judul albumnya yang pernah dirilis tahun 2014 silam. Band ini tumbuh di daratan Borneo dengan gagah berani, ambisi besar, dan tanpa keluhan. Bahkan nekat menyeberang jauh hanya untuk merangkai akses dan jaringan yang solid demi pengembangan (karir) musiknya. Musti diakui, daya jelajah Kapital cukup tinggi. Apalagi mereka adalah sekumpulan metalhead yang dibekali kearifan lokal dan bakti pada kampung halaman. Musik dan lirik? Cek. Distorsi Borneo? Cek. Rock In Borneo? Cek. Belajar dari band-band seperti mereka ini saya jadi malas mendengar lagi kalimat (atau mentalitas) “band daerah” dalam konotasi mengeluh. Bersama identitasnya, Kapital justru terlihat lebih berkarakter, seksi dan, uhm, eksotik?! Akbar Haka dkk pasti ingin melontarkan peluru-peluru tajamnya dengan kaliber yang lebih tinggi serta jangkauan yang lebih jauh lagi.
Simak lagu "Semesta Rawa" di sini:
Eh, lima nama finalis lainnya? Sebentar, break adzan dulu. Tunggu beberapa hari lagi ya. Sebab ini memang bersambung…
Comments (0)