Metafora Komposisi Imajinar
Sampul Hari Ini
Hari ini, ketika perkembangan tehnologi desain grafis semakin maju, bertambah banyak pula karya-karya visual yang muncul di lingkup industri musik, terutama pada kancah independen. Karya-karya visual tersebut sudah tidak lagi terbatas pada ruang sampul album penuh saja – melainkan sudah merambah pada desain sampul single atau lagu sebagai tuntutan mengemas karya di era music streaming.
Turunan dari desain album penuh atau single pun sekarang bisa diaktivasi menjadi desain merchandise, art print, poster, flyers, bahkan diadopsi dalam format multimedia (video). Selain itu, ruang kolaborasi juga semakin terbuka, serta kerap melibatkan banyak seniman dan penggiat lintas disiplin—mulai dari musisi, ilustrator, pelukis, desainer grafis, fotografer, videografer, dan video jockey.
Dalam sebuah artikel lawasnya, Rolling Stone Indonesia pernah menegaskan bahwa ada bobot yang menyeruak dalam setiap sampul rekaman yang digarap oleh para perancang grafis atau ilustrator. Bobot tersebut bahkan dianggap setara dengan perkembangan dan tren musik yang merebak pada era tertentu.
Sekarang momen yang tepat untuk mengingat kembali bahwa setiap sampul bukan lagi sekedar pembungkus karya rekaman musik belaka. Lebih dari itu, sampul adalah interpretasi dari konten. Mereka juga merupakan penanda yang sahih soal karya musik maupun gagasan musisinya. Sebab, sebagaimana karya musik, desain grafis dan ilustrasi yang terlibat juga musti mampu menunjukkan semangat zaman.
Lagipula, iseng-iseng menghitung ada berapa banyak tengkorak di setiap album Seringai atau menemukan logo-logo korporat di album Scum (Napalm Death) itu jauh lebih menyenangkan daripada memandangi desain baliho kampanye Pilkada di pinggir jalan, bukan?!...
*Judul tulisan di atas diambil dari titel album Balcony, rilisan Harder Records (2003).
Comments (0)