Pentingnya Menjadi Penjelajah Karya, Khususnya di Lirik Lagu Sendiri

Pentingnya Menjadi Penjelajah Karya, Khususnya di Lirik Lagu Sendiri

Menurut, mas Ismail Basbeth, "Jadilah penjelajah. Dengan begitu kalian mungkin akan mendapat sesuatu dalam hidup kalian." Mungkin bisa diartikan, bila badannya gak kuat untuk melakukan eksplorasi ke benua benua atau pulau-pulau selain tempat tinggalmu, setidaknya jadi penjelajah di karya sendiri.

Melakukan eksplorasi semampunya (ya meski malas, tetap dilakukan saja. Saya juga suka malas). Karakter dalam menulis lirik mulai berangsur terlihat bila kita konsisten, peka, dan mampu menyelami titik terdalam dari apa yang kita sukai.

Banyak karya Poe yang saya coba simpulkan dan tarik ke pengkaryaan saya. Salah satunya yakni hasrat Poe yang ingin mendobrak pagar berduri. Ketika di hadapan cinta, dia mampu miskin papa. Meski saat membaca ulang karyanya, saya akan dibajiri pertanyaan lagi, keluwesan dan kekuatan mental untuk menyelam lebih dalam.

Gara-gara Poe, saya harus mengartikan bahasa Nubia. Hingga, terjembab untuk memahami lirik yang saya buat dengan membandingkan perspektif mereka yang dekat dengan laut, seperti nelayan dan ikan. Itu hal yang bikin pusing, tapi asyik!

Sampai saat ini, Hola belum mau menyerah untuk memahami dan mencoba mundur sedikit untuk merenungkan semua hal, hingga peristiwa, aktivitas yang berhubungan dengan laut. Kenyataannya, saya pun lahir di kota di mana untuk mencapai pulau lain, harus menyeberangi laut. Cocok. Akhirnya identitas karya itu pun tercipta.

Di mana kehidupan menuntut kesempurnaan, hingga manusia yang penuh ketidaksempurnaan, setidaknya saya bisa mempertanggungjawabkan lirik yang saya buat. Saya harus bisa menceritakan karya tersebut, selain teknis rekaman dan panggung, sampai detail terkecil, pesan itu harus tervisualkan dengan rentetan kata-kata tesebut. Hingga saat ini, saya masih belajar untuk lebih baik lagi bagi pendengar musik Hola.

Bernama lengkap Virdiyas Eka D, lahir di Bandar Lampung, saat ini berdomisili di Utara Yogyakarta. Perempuan yang berada di belakang musik solo-Holaspica, mempunyai ketertarikan lebih banyak pada penulis. Bukan yang suka buat quotes di Instagram, tapi di buku yang mungkin tidak banyak orang melihat dan terlalu tua untuk ada di rak best seller.

Selain musik dan buku, Dias pun sempat ada di suatu gerakan sanitasi di kota lahirnya. Di mana, sekali lagi, ia bisa berbicara menggunakan musiknya, dalam menyuarakan isu air. Terakhir, dirinya masih belajar mempelajari alur hidup, yang saat ini membuat dirinya, mau tidak mau, membuat lagu cinta. Entah karena terlalu jujur sudah bisa jatuh cinta atau disesatkan sedikit oleh yang punya empu kehidupan.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner