Pentingnya Menjadi Penjelajah Karya, Khususnya di Lirik Lagu Sendiri
Terkadang saya iri dengan mereka yang tenang-tenang saja ketika menjelaskan karyanya ke publik dengan sangat tidak masuk akal. Mungkin ikut-ikutan, karena digampar dengan kejadian yang sama (tapi seharusnya, akan selalu ada entitas pembeda. Kembar aja beda. Hayo!).
Saya memilih bernyanyi menggunakan gitar saja, kalau misal harus unplugged juga lebih baik, daripada gonjrang gonjreng, cekit cekit, bending bending, tapi ramai rima, minim makna. Tapi itu prinsip saya sendiri. Tidak harus diminati. Saya aja kadang gak minat, kalau lagi malas. Hahaha.
Sooo, work doesn’t speak for itself. Mengutip Kleon lagi, sudah sewajarnya kita mengetahui bahwa karya tidak akan serta-merta berbicara atau menceritakan dirinya sendiri. Jadi, sebelum berani bermimpi, coba berbenah lagi, rapikan kembali kata-kata di rak lirikmu. Lalu, ceritakan karya itu kepada diri sendiri dulu.
Hingga ketika semua siap, nanti si karya berlabuh mulus ke hati pendengarmu bersama pesan-pesan baikmu. Meski, ada tidaknya lampu spotlight, ikan-ikan sudah siap menerimamu menjadi satu, dan terus berenang riang. InshaAllah.
NB: selain konten foto yang dilampirkan, konten video, diambil dari postingan @josephpetras. Di mana video yang dibuat oleh Joseph, mengadaptasi lagu Holaspica berjudul "The Dying Sky". Creator sudah setuju, untuk kontennya dipakai dan tayang di media.
Comments (0)