Video Killed The Radio Star: Menyoal Proses Kreatif The Jadugar

Video Killed The Radio Star: Menyoal Proses Kreatif The Jadugar

Pendekatan estetis dari The Jadugar melabrak tatanan konvensional dari video klip musik pada masa itu. Lazimnya gaya penceritaan dalam video klip menampilkan visual isi lirik lagu dengan personil band (biasanya vokalis) bersama model-model. Jika lirik itu soal patah hati, tampilah sang vokalis yang sedang meratap pada sang model perempuan. The Jadugar lebih banyak bermain-main dengan objek seni rupa (kolase/ilustrasi/artefak); hampir jarang (bukan berarti tidak ada) personil band yang memainkan alat musik, atau personil band menjadi pameran utama dalam video klipnya.

Pertama kali mengenal The Jadugar ketika saya menonton video klip Lain “Train Song” di MTV. Video klip itu menampilkan sebuah miniatur kereta api yang berputar-putar mengitari berbagai sudut, dari sudut pribadi seperti kamar tidur hingga sudut publik berupa trotoar jalan. Kereta api miniatur itu menjadi “tokoh utama” yang berkeliling kota – entah mencari apa – sebelum kemudian melaju melewati bioskop tua pada adegan terakhirnya. Mungkin saja ini menceritakan rumitnya dari musik atau lirik Lain itu sendiri. Kemudian ketika saya menonton video klip The Brandals “Lingkar Labirin” yang menampilkan visualisasi berupa gambar ilustrasi (berupa hand-drawing dan foto yang di-kolase-kan) dan dipadukan melalui teknik stop-motion. Dari kedua video klip itu saja kita bisa merasakan bahwa The Jadugar tidak telalu taat dan memang gak perlu taat banget terhadap aturan video musik konvensional. Mereka hanya “bermain-main” saja.

Ketika anak seni rupa menjadi sutradara video klip, bagi The Jadugar rasanya isi/pesan itu memang menjadi tidak begitu terlalu penting. Mungkin lazimnya generasi posmo yang sedang tren/hip pada masa itu membuat mereka mempersilakan para penonton untuk menafsirnya sendiri – atau seperti yang dikatakan Roland Barthes, “Author is Dead”. Kita tidak menemukan secara eksplisit apa, sih, pesan yang ingin disampaikan dalam karya-karya video musik The Jadugar. Coba tonton saja di Youtube video klip dari Naif atau Boys Are Toys, yang lebih banyak menampilkan pendekatan seni rupa, terutama melalui ilustrasi.


Video Clip "Boys Are Toys - Alibaba"

Namun tak semuanya memang video klip The Jadugar melakukan “pendekatan” ala seni rupa untuk band-band indie. Pada satu sisi masih ada ruang kompromi ketika mereka mulai menggarap video klip band mainstream serupa Peter Pan dan Slank. Tapi hasil akhirnya, masih ada sentuhan yang “berbeda” ala The Jadugar. Pada video klip Peter Pan, misalnya, hanya menggambarkan sosok Ariel (vokalis) yang berjalan-jalan mengitari trotoar pertokoan – berbeda dengan video klip Peter Pan lainnya yang selalu mengeksplorasi ketampanan Ariel yang dipadupadankan dengan model-model cantik.

The Jadugar – bersama Cerahati – mewakili sebuah generasi terbaru dalam melahirkan estetika dan kreativitas melalui medium video klip: Menolak segala tatanan konvensional dan mainstream. Tahun 2002 hingga 2005 rasanya menjadi periode yang sangat aktif bagi The Jadugar. Sayang selepas periode itu, saya tidak menyimak kembali aksi mereka, kecuali Anggun yang masih aktif menyutradarai beragam video klip hingga film fiksi. Sosok Henry Betmen sendiri mungkin lebih asyik bersama Goodnight Electric. Apalagi pada masa itu Goodnight Electric sedang merajai berbagai pensi.

The Jadugar tumbuh berbarengan ketika MTV sedang pada masa puncaknya. Semangat kebebasan dan eksplorasi kreativitas juga seiring dengan tumbuhnya prinsip “semau gue” yang akhirnya menjadi landasan untuk tetap mendobrak segala tatanan konvensional dan melahirkan inovasi dan ekspresi baru. Perubahan sosio-teknologi, kini melalui Youtube, membuat video klip bukan lagi menjadi produk yang “wah” – semua sudah bisa mengunggah videonya ke Youtube.

Video Killed The Radio Star!

***

Nama Idhar Resmadi sudah dikenal di kalangan jurnalis musik tanah air. Music Records Indie Label (2008), Kumpulan Tulisan Pilihan Jakartabeat.net 2009-2010 (2011), dan Based on A True Story Pure Saturday (2013) adalah karya yang sudah ia rilis. Selain itu, ia juga merupakan peneliti lepas, pembicara, moderator, atau pemateri untuk bahasan musik dan budaya.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner