Why Metal Cover Matters
Kreativitas dalam mengkover sangat beragam. Kalau dari contoh di atas cuma mengubah aransemen dari “Pop” ke “Metal” dan sedikit modifikasi liriknya. Bagaimana jika sebuah lirik dari lagu band Metal seperti Cannibal Corpse dinyanyikan dalam nada-nada “Pop”? Hasilnya seperti ini:
Contoh di atas malah secara satir mengingatkan kita bahwa untuk mengkover sebuah lagu itu tak bisa sembarangan. Sebuah lagu adalah bentuk karya yang utuh dari komposisi nada, tempo, lirik, atau elemen-elemen lain yang menyertainya. Kalau ada yang ditukarsilangkan, kemungkinan besar hasilnya berubah. Bukan urusan saya pula untuk mengatakan itu berubah jadi lebih baik atau lebih butut.
Mengatakan suka pada sebuah lagu dan mengkovernya pun tidak tepat. Karena “suka” dan “tidak suka” itu bukanlah alasan, melainkan sikap. Masih ada hal lain kenapa kita menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Artinya, tidak aneh kalau ada band atau orang yang mengkover sebuah lagu karena tidak suka dengan versi orisinilnya dan berharap ia bisa membawakannya dengan lebih baik. Karena bermusik bukan sekadar membunyikan alat musik. Kalau sekadar membunyikan alat musik tinggal serahkan saja pada mesin. Itu pun di balik perangkat mesin itu masih ada manusia yang punya serangkaian ide dan kegelisahan.
Ada etika dalam urusan mengkover lagu ini. Bukan etika yang dimaknai sebagai aspek hukum. Bukan. Namun sesuatu yang melandasi terciptanya kesadaran mengkover sebuah lagu. Suka atau tidak suka pada sebuah lagu yang akan dikover, tentu pemahamannya mesti jelas. Akan aneh kalau ada yang memainkan sebuah lagu tapi tidak pernah tahu itu aslinya lagunya siapa dan bercerita tentang apa. Dan akan lebih menggelikan lagi kalau ternyata lagu yang bagi ia dikover itu sebenarnya juga versi koveran yang keberapa. Jadinya, coverception.
Comments (0)