Why Metal Cover Matters
Praktik kover mengkover terjadi pula di scene punk. Kebanyakan berasal dari subgenre Melodic yang nampaknya dari dulu punya bakat di bidang ini. Beberapa pertanyaan retoris saya lontarkan mengenai hal itu. Seperti, apakah band-band ini juga manggung di event Punk? Bisakah mereka bertahan setelah satu lagu dimulai tanpa terkena lemparan botol amer? Atau jangan-jangan malah dapat sambutan meriah dari audiens?
Untuk beberapa event Punk yang sudah kredibel mungkin band-band semacam ini tidak akan berani, kalaupun nekat, itu pasti karena “kepedeannya”. Tapi saya sering menyaksikan bentuk seperti ini di event-event all genre (atau event khusus Melodic, yang kita tahu, Melodic Punk merupakan salah satu subgenre yang musiknya terbilang soft, dengan tema keseharian, jauh dari politis, meski ada beberapa yang Anarkis). Asalkan musiknya ngepunk, meskipun iramanya sangat mendayu-dayu, they’ll proud to call them self as Punk. sama kan dengan scene kita?
Seperti kata seorang teman, Superman Is Dead bisa jadi memang Punk, tapi orang-orang yang mendengarkan musiknya belum tentu Punk. Di scene kita, saya malah sepakat, orang yang bahkan punya band Metal, belum tentu mereka Metalhead. Bisa saja para oportunis yang kebetulan memiliki skill bagus dan segudang referensi, di tengah acakadutnya isu-isu tidak penting dalam permetalan kita. Lebih banyaknya kemungkinan untuk tampil di event metal dari pada gelaran Inbox menjadikan musik ini menjadi harapan mereka satu-satunya untuk bisa menunjukan dirinya.
Lalu sopankah bila kita akan bertanya kepada band-band yang akan tampil di event kita, lagu apa yang akan mereka bawakan? Semua itu tentu sungguh tidak penting. Semua musik are welcome di event Metal, yang penting distorsi-distorsi-distorsi! Lalu kita akan menyebut ini sebagai Metal apa? Metal Melodic di mana lirik-lirik lagunya sangat tidak gahar alias menceritakan keseharian saja? Lalu pertanyaannya, bukankah istilah Punk, atau Metal, keduanya berhubungan erat dengan musiknya? jadi mau lirik dan ideologinya seperti apapun asalkan musiknya mengikuti patternnya, bukankah itu sudah oke? Kenapa harus ribet? Tapi di balik semua itu, ada satu dalih pamungkas berbunyi “Lho, musik kan universal?”
Comments (0)