Why Metal Cover Matters

Why Metal Cover Matters

Mengatakan musik sebagai (bahasa) universal itu adalah tindakan semena-mena. Bagi saya malah cenderung praktik simplifikasi yang gegabah. Dalam sebuah artikel di Smithsonian malah secara gamblang dijelaskan kenapa musik bukanlah bahasa universal. Sebuah penelitian mendukung hasil temuan bahwa gagasan kesamaan mencerna atau memahami musik tidaklah tepat.

Ada riset yang dipublikasikan tahun ini menyatakan bahwa mungkin orang bisa mengatakan sebuah lagu sebagai pengantar tidur atau pengiring tarian dan kadang-kadang sebagai sarana terapi. Namun mereka tidak mampu mengidentifikasi dengan pasti lagu-lagu cinta. Meskipun secara umum musik hadir sebagai sesuatu yang memicu otak untuk mencernanya, sebenarnya yang berlangsung adalah cara dari musik itu sendiri membentuk pattern atau pola ekspektasi otak dari orang yang sedang mendengarkannya.

Jadi, otak manusia secara universal memang bereaksi pada musik dengan cara yang sama. Namun hal itu tidak selalu menghasilkan respons emosional yang sama pada setiap manusia. Kemungkinannya cuma dua; menikmati atau menolaknya. Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa praktik menafsirkan pola ekspektasi itu sifatnya subjektif atau kultural.

Artikel itu dan begitu juga artikel ini ditutup dengan sebuah kesimpulan: “When you break it down, what does seem to be universal when it comes to music? That humans enjoy it, however their culture has learned to make it.”

Hernandes Saranela

Hernandes Saranela merupakan pembuat film personal di bawah bendera kolektif Cinemarebel Yogyakarta. Vokalis dari band Punk DEMSTER & band Pagan Metal ENUMA ELISH. Juga menjadi pengajar film dan akting di salah satu kampus di Jogjakarta.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner