33 Tahun Jajan Rock, Tak Pernah Kusut Pita Kaset
Hampir lebih dari tiga dasawarsa Hendro 'GS2C' "tak pernah kusut" berburu pita kaset. Artinya, beliau belum berhenti dan masih tetap melakukan aktivitas ini dengan segenap hati. (Bagian pertama dari kisah tentang Hendro 'GS2C')
Bandung—Kolektor item awalnya hanyalah hobi. Tapi, tren itu kini bergeser jadi profesi yang menghasilkan, penuh tantangan dan kepuasan tersendiri bagi pelakunya. Kolektor item selalu dikaitkan dengan suatu objek yang menarik untuk dikoleksi, terutama karena langka, indah atau terkait dengan seseorang yang terkenal. Biasanya, musisi atau seniman dan jangan lupakan nilai historis di balik benda tersebut yang kadang menjadi alasan tersendiri.
Sebagai contoh, compact cassette yang biasa disebut kaset, pita kaset atau tape. Fungsinya sih sebagai media penyimpanan data yang umumnya berupa lagu. Lahir di tahun 1960an dan meledak pamornya di era '90an sampai 2000an, generasi yang ada di masa ini tentu kenal dengan benda yang berasal dari bahasa Perancis ini. Cassette berarti kotak kecil. Kaset berupa pita magnetik yang mampu merekam data dengan format suara.
Bukan soal lagu Guns N' Roses karena (saat itu) masih awal September, tapi hujan di awal September menjadi pembuka obrolan santai kami dengan seorang kolektor item yang memiliki sekitar lebih kurang 2000 pita kaset lawas. Koleksi lainnya ada buku musik, majalah, poster, kaus band dan benda lain yang terkait dengan musik. Namanya Hendro. Orang-orang terdekat memanggilnya Hendro 'Gondrong' atau Hendro 'GS2C'.

Hendro 'GS2C', memegang beberapa koleksi fisik miliknya | Foto: Franco Londah
"Mulainya sih sekitar tahun '85-'86. Waktu itu SMP kelas dua atau tiga. Awalnya ya memang karena suka musik rock. Waktu itu, heavy metal udah mulai booming. Nah, di situlah mulai senang koleksi. Dari Inggris ya Iron Maiden, Judas Priest, Loudness," ujar Hendro 'GS2C' ditemui di rumahnya pada hari Minggu (2/9), memulai perbincangan kami soal awal perkenalan dan pembelian pita kaset pertamanya.
Saat itu, teknologi dan informasi tidak semudah masa kini, dan hal ini diakui Hendro. "Yaa, satu-satunya informasi dulu itu lewat radio, salah satunya GMR yang selalu memutar lagu-lagu berbau rock. Programnya Sunday Rock, dari jam empat sore sampai jam enam. Nama penyiarnya Jo. Acuan info musik ya dari situ. Internet gak ada segala macam. Sama majalah sempat juga, majalah Vista dari Jakarta. Bagusnya, bahasannya cuma musik sama film." Diakui oleh Hendro lewat radio dan majalah lah beliau punya kebiasaan suka mencatat info terbaru dari band-band yang musiknya diputar atau diulas. Setelah itu, perburuan pita kaset dimulai. "Biasanya suka catat dulu, terus baru hunting kasetnya. Dulu, Starsounds di Dalem Kaum dekat Dunkin' Donuts, ingat banget," Hendro mengenang.
Comments (0)