A Page About: Melewati Pagi Hari Bersama Themilo

A Page About: Melewati Pagi Hari Bersama Themilo

Jemari kaki akhirnya mulai mampu bergerak. Seluruh otot yang lemas dipaksa bekerja. Sulit sekali untuk meninggalkan singgasana. Dalam otak saya, ada satu lagu yang terus terngiang. Dari sebuah grup musik lawas asal Bandung, yang mengelus pagi dengan sendu. “Daun dan Ranting Menuju Surga” menjadi teman saya saat itu. Membantu saya merangkum pagi, dengan tenaga yang belum seutuhnya terkumpul, dengan telinga yang dimanjakan tiap bebunyian di dalamnya.

Petikan gitar jangly bertempo lamban, bersamaan dengan noise yang berbalut manis, merangkul saya untuk terus terbuai dalam suasana sepi. Kata demi kata dilantunkan sang vokalis berkaca mata, membawa sedikit rasa hangat. Kali ini, melodi mulai terdengar. Themilo semakin meyakinkan bahwa pagi ini jiwa masih terasa sepi, bersamaan dengan nada gloomy yang dimainkan. Memerhatikan dengan lebih jeli, seperti ada unsur persuasif di sini. Ternyata, ketika distorsi mulai dimainkan, kehampaan tadi mulai sirna.

Mau sampai kapan seperti ini? Ayo bergerak. Masih banyak yang harus dilakukan. Distorsi berat itu menstimulan saya untuk mulai beraktivitas. Perlahan-lahan, perasaan yang sendu tadi mulai menemukan suntikan semangat. Fase itu beralih menjadi awalan hari yang segar. Diiringi tempo yang kembali lamban sampai petikan gitar terakhir, seluruh jiwa akhirnya benar-benar jauh lebih baik dari sebelumnya.

Foto diambil dari akun Official Facebook Fanpage Themilo, hasil jepretan @psychobarry

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner