Album Review : Unit ‘Episodic-Folk’ Bandung Yang Tengah Membuat Post-Rock Lebih Teaterikal & Matematis

Album Review : Unit ‘Episodic-Folk’ Bandung Yang Tengah Membuat Post-Rock Lebih Teaterikal & Matematis

Sebagaimana atmoser milik musik-musik post-rock, band Sukat pun bermodalkan style akan dinamika, progresi, dan kompleksitas sebagai daya jual.

Setelah dibekali skill, lirik kontemplatif, kekayaan instrumen, dan keberanian bereksplorasi, rasanya tantangan mereka hari ini mulai jelas: bagaimana band Sukat mengembangkan daya jual tadi, menjadi daya tarik baru – di samping PR utama mereka: mempertahankan keutuhan formasi band itu sendiri; mengingat mimpi album perdana sedang menanti – sekaligus mengingat pula, bahwa semakin kompleks suatu konsep musik, maka semakin sulit pula menyeimbangkan ego tiap individu.

Band ini punya logo unik: desain tipografi banyak angka yang menyerupai sebuah metronom analog. Tebakannya, akan ada dimensi-dimensi musik progresif dari band indie satu ini (lalu kami jadi teringat Discuss, band indie top yang laris manis di tanah Eropa – akankah Sukat jadi younger version dari Discuss? Amin!). Hmm, rasanya boleh-boleh saja kita mulai menanam ekspektasi sambil berspekulasi dini. Dilihat dari logonya, tampaknya mereka akan membawa warna baru ke dalam skena musik indie. Apalagi jika ada sebuah stigma populer, bahwa musik-musik konseptual yang ketukannya ‘ngitung’ itu, umumnya hanya dimiliki band-band ber-genre jazz atau progressive semata. Nah, bagaimana dengan Sukat, band yang notabene tidak mengusung kedua genre di atas? Sebagai band berakar post-rock dan folk, lantas ‘kalkukasi’ musik seperti apakah yang akan mereka rancang?­

Sang vokalis, Sophi – akrab disapa ‘Opoy’, merupakan akademisi di bidang teater dan seni pemeranan (what a stage’s frontman fit!). Pada departemen per-dawai-an, band ini diperkuat sepasang electric-guitars (Sony ‘Uwa’ Nugraha & Robby ‘Obik’ Dwi Virmino) plus electric-bass (Deny ‘Denok’ Pirmansyah). Pada departemen aerial melodies, Sukat punya Ilham ‘Kemas’ Sri Haryanto (flute, saluang, suling) dan Rizal ‘Yudha’ Wahyudha (keyboards). Terakhir, Ajay (drummer) berperan sebagai ‘penggaris’ ritmik dari setiap rumus bebunyian milik band ini. Sepanjang 2017, produktivitas Sukat berbuah dua singel, yaitu ‘Bias Binar’ (rilis 16 Maret 2017) dan ‘Freedom(?)’ (rilis 23 Desember 2017). Kabarnya, awal 2018 mendatang Sukat akan merilis singel ketiga berjudul ‘Teman Kecil’. Sambil menunggu lahiran anak ketiga, mari kita ulas dua kakak mereka.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner