Berteman dalam Jejaring Musik Indie Global
Melihat pola pertemanan yang berbuah pada peluang ala Rekti (The Sigit), Eben (Burgerkill), dan Karinding Attack.
Berawal dari pertemuan dengan Rekti Yoewono, vokalis sekaligus pemain gitar dari band The Sigit dalam rangka sesi interview bersama band Devil Electric asal Australia di sebuah radio swasta di Bandung. Di sela interview, saya terlibat dalam sebuah obrolan mengenai peran Rekti dalam sebuah label indie, Bhang Records. Label tersebut adalah bentukan Rekti yang berawal dari sebuah toko di Bandung yang menjual rilisan fisik dalam bentuk piringan hitam. Hingga akhirnya, usaha tersebut berkembang menjadi sebuah label rekaman yang merilis berbagai macam band. Devil Electric adalah salah satu band rock 'n roll yang akan dirilis dan didistribusikan di Indonesia oleh Bhang Records.
Hingga akhirnya, pembicaraan berkembang ke cerita pertemuan Rekti dengan band Devil Electric asal Australia. Berawal dari tur Australia yang digelar oleh The Sigit pada tahun 2016 selama satu bulan, Rekti berkenalan dengan band Devil Electric hingga akhirnya pembicaraan mereka berkembang dan mengarah ke arah kerjasama dalam bentuk perilisan dan distribusi album Devil Electric di Indonesia. Hingga akhirnya, di akhir tahun 2017 Devil Electric melakukan tur di beberapa kota di Indonesia yang difasilitasi oleh Bhang Records yang berniat memperkenalkan musik Devil Electric ke publik pecinta musik rock 'n roll di Indonesia.
Apa yang dilakukan oleh Rekti berbanding terbalik dengan beberapa kawan lainnya di ranah musik indie. Seperti apa yang dilakukan oleh Eben (Burgerkill) yang menjalin komunikasi dengan seorang jurnalis musik asal Inggris yang bekerja untuk majalah Metal Hammer, Dom Lawson. Dengan motif awal bermaksud untuk mempromosikan bandnya, Eben membangun komunikasi yang intens dengan Dom Lawson. Hingga akhirnya, beberapa peluang dijajaki bersama dalam bentuk hubungan kerjasama. Atas peran Dom Lawson, akhirnya nama Burgerkill berhasil dikenal di ranah musik metal Inggris melalui ulasan artikel di majalah Metal Hammer dan berhasil merebut penghargaan "Metal as Fu*k" versi majalah Metal Hammer.
Pembuktian lain dari kerjasama mereka adalah Burgerkill bersama Jasad berhasil menembus panggung Bloodstock Festival di London, Inggris, salah satu ajang festival metal bergengsi di Eropa. Tidak hanya itu, Eben dan Dom pada akhirnya membukakan banyak pintu kesempatan untuk dijajaki. Terhitung sudah hampir empat edisi Metal Hammer membahas secara khusus ranah musik metal Indonesia. Kota Bandung selalu menjadi pusat perhatian dari Dom Lawson. Mungkin, karena Dom Lawson terkesan dengan gairah dan semangat para pelaku dan apresiator musik metal di Bandung. Hingga akhirnya nama Dom Lawson tercatat sebagai juri untuk sebuah acara bergengsi, Wacken Metal Battle Indonesia 2017 di Bandung.
Comments (1)