Kembalinya Eksistensi Pop 60-an Dari Curly & Me

Kembalinya Eksistensi Pop 60-an Dari Curly & Me

Kalau lagu “Concordia” seperti apa ?

Awalnya lagu itu dari Wibisana ketika membaca buku berjudul “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” karya pak Haryanto Kunto, beliau dijuluki ‘kuncen’ Bandung. Karena didalam buku itu, dia menceritakan dalam berbagai sudut pandang dan cerita. Mulai dari kebudayaan, perekonomian, dan lain sebagainya. Yang kita angkat dari buku tersebut untuk dijadikan lagu “Concordia” adalah, ketika menceritakan kebudayaan Bandung. Bagaimana tentang kehidupan sosialnya, jadi di buku itu Concordia disebutkan sebagai klab pada masa penjajahan Belanda yang bernama Society Concordia. Dan nama gedungnya juag Concordia, yang kalau sekarang di Bandung itu namanya gedung Merdeka. Jadi dulunya tempat itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang Belanda kalangan atas untuk dansa atau makan dan minum. Lalu untuk dijadikan lagu yang juga single kemarin, kita ambil dari segi keindahannya tentang apa saja hal yang ada dalam gedung itu. Makanya judulnya “Concordia”.

Pesan apa yang kalian sampaikan kepada pendengar lewat lagu itu ?

Lebih ke wajah bandung tempo dulu sih, salah satunya yang kita angkat adalah tentang gedung Concordia itu. Diluar itu banyak lagi sebenarnya. Kayak gini misalnya, sebagian orang sekarang, khususnya di Indonesia kalau mendengar kata kolonial pasti mengkonotasikannya ke hal-hal semacam penjajahan dan lain sebagainya. Padahal bukan, orang-orang Belanda ketika hadir di Indonesia, mereka membangun infrastruktur disini juga. Beda sama Jepang yang cuma 5 tahun. Jadi perihal kolonial tidak melulu bersifat jahat atau penjajahan, tapi membangun juga khususnya  dari segi infrastruktur.

Terlepas dari itu, untuk kedepannya apakah kalian sempat kepikiran buat eksperiment atau kolaborasi mungkin dalam musik Curly & Me ini ?

Oke, untuk eskperiment coba kita bagi dua ya antara studio dan live. Kalau untuk band ini sebenarnya, basic musik Curly & Me adalah sebuah band live sebenarnya. Tapi bukan berarti kita harus pakai full set band, walaupun memang lebih bagus dari segi kualitas. Tapi kita malah mengandalkan intinyanya dulu ; suara, nyanyi, dan vokal. Kalau untuk gitar adalah suara ketiga lah di band ini. Kenapa, karena kami ingin menyajikan yang lebih segar. Beda dengan beberapa band indie lainnya mungkin yang pakai berbagai instrument, bukannya anti tapi seperti itu tadi kami ingin kemasan yang lebih segar. Tapi kalau dari segi studio, karena kita garap materi juga di studio. Kami menggarapnya dengan beberapa section musisi-musisi pendukung, seperti single yang kami garap kemarin judulnya “Ordinary Friend”. Kita pakai instrument keyboard dan perkusi semacam conga dan bongo dan violin. Untuk rekaman, lagu yang kita rekam itu adalah lagu-lagu yang sudah matang atau baik ketika dibawa live sehingga orang mendengar versi audio atau nonton live berbeda. Bukan artinya sama kualitas antara live dan audio dari studio gitu. Dan tadi, untuk kolaborasi sebenarnya sudah kita lakukan tepatny di karya lagunya musisi asal Jakarta, namanya Rull Darwis yang nantinya materi tersebut masuk disalah satu materi album keduanya.

Bagaimana kalian melihat perkembangan musik saat ini ?

Menurut kita musik, harus kembali lagi ke esensinya. Karena ktia disini ngomongin masalah karya, yang mau sebagus apapun karya musiknya kalau tidak bisa bertanggung jawab, karya itu tidak kuat bahkan tidak punya peran. Khususnya untuk perihal ini masih ada yang harus dibenahi sih, sudah gitu aja mungkin. 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner