Ketika Musik Bambu Mampu Menggetarkan Pasar
Sebagiamana nama bandnya, kekayaan nada Paberik Bamboe tidak hanya sebatas instrumen band semata, termasuk komposisi lagu “Kumbang Blonde”, yang digubah dengan sentuhan EDM
Mario Korohama adalah vokalis sekaligus penulis lirik Paberik Bamboe, unit musik Bandung berformat double-sessions (bamboo-session & band-session. “Inspirasi lagu ini berawal ketika saya nonton vidio musik hip-hop berisi pertunjukan rap-battle. Mereka debat soal kebiasaan rapper lain, yang doyan gonta-ganti warna rambut. Ini kocak bagi saya” Mario kembali bercerita. “Dari fenomena inilah ide lirik Kumbang Blonde muncul,” sambung pria gondrong berdarah Flores ini.
Mario berkisah tentang seorang anak lelaki “centil” zaman sekarang. Anak itu kecantol musik dub saat musim EDM (Electronic-Dance Music) mewabah di Indonesia. Gaya hidupnya mendadak jadi glamor dan hedon, padahal dia “anak kemarin sore”. Kesimpulannya, lirik lagu “Kumbang Blonde” adalah potret kelabilan para remaja. Umumnya, mereka sulit jadi diri sendiri. Krisis identitas, juga minim percaya diri. Berpenampilan nyentrik pun menandakan betapa mereka sangat haus pengakuan.
Dilihat dari influence-nya, maka tak heran bila singel satu ini terdengar mirip EDM. Ternyata hal ini memang disengaja, sebagai sindiran kreatif dalam konsep lagu “Kumbang Blonde” itu sendiri. Ada suara perkusi digital, synth, dan aksen vokal rap di sepanjang lagu. Lengkap dengan sentilan nakal dari gitar, bas, dan drum. Paberik Bamboe seakan ingin bilang, bahwa gaya sarkastik tak hanya milik sastra dan puisi, karena toh lewat bahasa musik kekinian juga bisa. Terlebih lagi, kreativitas di media musik sukses membuat mereka tak perlu melampiaskan segala kegelisahan dengan amarah. Pemikiran ceria inilah penyebab Paberik Bamboe selalu total, dan sangat enerjik dalam memainkan lagu “Kumbang Blonde”, baik saat rekaman maupun manggung.
Comments (1)