Mengupas Forgotten dari Mata Sang Drummer

Mengupas Forgotten dari Mata Sang Drummer

Forgotten di Mata Zalu

Zalu diharuskan menjawab sejujur-jujurnya tentang personil lain di Forgotten. Jawabannya singkat: Toteng itu bawel dan detail, Gan Gan itu pendiam tapi sekalinya ngambek hancur semua, Dicky (bass) juga pendiam, dan Addy Gembel itu pemerhati yang santai, tidak semua dikomentari. Dari apa yang dipaparkan soal kenyataan mengenai personil Forgotten, ternyata memang kulit tidak selalu sama dengan apa yang ia selimuti. There's something more than meet in the eye, dan itu yang dirasakan betul oleh Zalu. Tidak serta merta karena mereka adalah "band senior" maka mereka memperlakukan "anak kemarin sore" dengan semena-mena (adalah hal yang berbeda antara memperlakukan dengan seenaknya dan mematri mental seseorang). Dan sepertinya, budaya itu memang tidak banyak ditemukan di band-band independen, sejauh yang saya tahu. Tidak banyak (pasti tetap ada, sebenarnya), sejauh yang saya tahu (karena band Indonesia ada ribuan dan tidak semua saya pahami budayanya).

Menurut Zalu, berada dalam tubuh Forgotten adalah pengalaman besar. “Banyak pengalaman yang saya dapat dan belum tentu bisa didapatkan di band lain,” katanya. Disinggung jika suatu saat ada band yang tertarik merekrut Zalu, dengan mantap ia bilang bahwa ia akan menolak. “Nggak, pabaliut! Hahaha…” (Nggak, amburadul!). “Bukan itu alasannya sebenarnya, soalnya bill belanja dia paling mahal. Sekali belanja bisa sampai 14 juta, manajer aja ngomel-ngomel akhirnya, hahaha,” canda Addy Gembel.

Lebih dari sekadar menjadi personil, Forgotten merupakan jawaban dari ambisi dan pencapaian Zalu. “Sekarang, personil Demigod itu terbagi-bagi, ada yang di Jasad, Humiliation, Digging Up dan Gore Infamous. Sempat terpikir kalau sebenarnya ini memang sudah direncanakan oleh yang di atas. Tuhan bilang kalau kita memang sudah seharusnya berjuang di Demigod, dan kami akan menemukan jalan kesuksesan dengan cara masing-masing.”


Kisah Zalu adalah bukti bahwa regenerasi memang terjadi. Terlepas dari segala macam kendala dan perjuangan Zalu dalam menemukan karakter yang hari ini belum ia dapatkan, ia tetap perlu diapresiasi dan "diterima" sebagai personil dari salah satu legenda death metal tanah air. Kerja keras Zalu seharusnya dapat menjadi inspirasi untuk teman-teman lain yang berada di jalur yang sama. Mimpi dan ambisi memang bisa diraih, dengan syarat totalitas dan mau belajar, karena memang berada di ranah ini tidak mudah. Tidak ada yang instan. Semisal pun ada, hasilnya tidak akan sepadan dengan mereka yang mati-matian berusaha, dari tidur, duduk, berdiri, berjalan hingga akhirnya mampu berlari.

BACA JUGA - Ichad: "Manajemen Waktu dan Komunikasi adalah Hal Terpenting"

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner