Reportase : Limpahan Energi Jasad Dan Band Potensial Sukabumi Kala Bergumul Dengan Lumpur
Setelah itu ada sesi sharing session yang dipandu oleh Addy Gembel, yang banyak menyoroti pergerakan band-band lokal potensial dari Sukabumi, seperti band Sepatu Rusak dan Shockproof, yang sore hari itu tampil dengan penampilan maksimal. Selain itu Addy juga menyoroti soal distribusi lagu-lagu yang mereka buat. Lagu-lagu itu dikenalkan lewat kanal-kanal digital seperti spotify atau itunes. Juga tentunya DCDC yang memang punya concern lebih perihal pergerakan band-band baru potensial untuk bisa muncul ke permukaan.
Rasta In Peace tampil setelahnya. Mereka hadir dengan warna musik reggae, namun sedikit memasukan unsur distorsi yang melodius pada bagian intronya. Cukup menarik untuk gambaran band-band dengan warna musik semacam itu. Sedikit kejutan pada bagian bridge dengan pola ritmis ketukan drum yang cepat serupa musik punk, yang diteruskan dengan penuturan lirik jenaka berbahasa sunda.
Lalu ada Angel Of Death yang menjadi penampil terakhir di panggung Shout Out. Band yang secara estetis punya “lukisan” harmoni orkestra ini, meletakan unsur itu pada bangunan komposisi musik band ini, menghadirkan ambience lain dalam ruang imajiner penonton, bersahutan dengan sayatan gitar melodius, dan kekhasan warna suara sang vokalis, yang terdengar solid. Terasa sekali jika band ini adalah band yang matang, baik dari cara mereka meramu musiknya, ataupun penguasaan panggungnya. Pola ritmis yang terkadang ganjil, dilengkapi dengan nada-nada kromatis dari sang gitaris, pada beberapa kejutan kala tangga nada berubah ditengah lagu saat bridge ataupun coda lagunya, yang malam itu berhasil membuat penonton merapatkan barisan meskipun area Yonif 310 Cikembar, Sukabumi masih diguyur hujan sedari sore hari.

Comments (0)