Reportase : Limpahan Energi Jasad Dan Band Potensial Sukabumi Kala Bergumul Dengan Lumpur
Pukul delapan lebih dua puluh tiga menit, Addy Gembel menyebutkan nama Jasad, yang memang menjadi magnet utama pada gelaran ini. berselang tiga menit setelah nama Jasad dikumandangkan oleh Addy Gembel, Man terlihat menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang memang selalu menjadi pembuka, tiap kali Jasad akan tampil di gelaran “Bhinneka Tunggal Ika : Liman Soka” ini. tak pelak ketika tirai hitam terbuka, lima orang “monster” death metal dari Ujung Berung ini langsung menghajar panggung, ditingkahi dengan penataan lampu yang terpancar dengan aura pekat, ketika kerlap kerlipnya menjadi ‘teror’ yang melenakan bagi banyak orang di area itu.
Rapatnya jalinan musik yang dibangun Jasad, seakan tidak menyisakan ruang pada tiap gendang telinga penikmat karya nya pada bunyi lain, selain dari sayatan musik yang begitu solid dimainkan. Ditambah gemuruh bunyi drum, yang seperti genderang perang dalam dystopia ditiap gambaran lagu-lagu mereka. Pengalaman yang cukup magis dirasakan, ketika itu semua dilengkapi dengan penjiwaan Man ketika memuntahkan lirik-lirik lagu Jasad, atau sesederhana kala Man mengucapkan judul lagu “Nagara Ragana Naraga”, yang diucapkan dengan penjiwaan dan teror ditiap sorotan matanya.
Setelahnya dalang Batara Sena tampil dengan wayang-wayangnya, yang berkisah tentang hal-hal keseharian, yang berisikan sindiran dan kritikan sosial, namun disajikan dengan cara jenaka dan tetap ‘berisi’. Seperti halnya alm ayahnya, Asep Sunandar Sunarya, dalang Sena juga hadir dengan suguhan wayang kontemporer, baik dari segi modifikasi wayangnya itu sendiri, maupun cara penyajiannya.
Setelah penampilan dalan Sena, lagu “Kujang Rompang” dibawakan dengan dibuka oleh liriknya, yang juga punya makna dalam dan skral ketika Man mengucapkan “Panceg Dina Galur”. Pada tiga puluh menit penampilannya di atas panggung, Jasad masih menghadirkan stamina terbaiknya. Dengan kujang yang diangkat ke udara, Man menjadi sosok yang punya kharisma kuat, dan sedikit kontras ketika dihubungkan dengan kesehariannya yang santai. Selain itu permainan drum Oki misalnya, yang konstan menjaga rima dan kekuatan ketukannya, jadi sebuah ‘genderang perang’, ketika dia memainkan double pedal ataupun rentetan suara snare drumnya. Gemuruh suara yang mengiringi para penonton berbagi keringat di area moshpit. Sampai akhirnya Jasad menutupnya dengan lagu cover “Pesawat Tempur”.
Penampilan Jasad pada lebih kurang satu jam mereka di atas panggung, memberikan energi yang begitu besar, seakan mementahkan guyuran hujan yang ternyata tidak menyurutkan penonton untuk tetap moshing di depan panggung. Mereka semua larut dalam tanah becek, berjingkrak mengikuti irama, dari sejak penampilan band-band Shout Out, yang juga menjadi catatan penting bagi ranah musik Sukabumi, jika pada hari gelaran acara ini berlangsung, slogan Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi jargon tanpa makna. Tapi slogan itu hadir lewat sajian-sajian musik multigenre yang kesemuanya hadir dalam energi dan semangat yang sama besar.
Comments (0)