Riset dan Pendalaman Konten Selamatkan Kapital di Pengadilan Musik
Setelah artwork, Jaksa Penuntut belum habis mengorek Kapital. Kali ini, mereka beralih pada lirik lagu “Mantra”. Lirik dibuat oleh sang vokalis dan berisi kalimat-kalimat protes di lingkup sosial-politik atas apa yang terjadi di tanah mereka, bahwa Indonesia merdeka hanya untuk sebagian wilayah dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah semu di dataran Kalimantan.
Di luar kiraan, pertanyaan Pidi Baiq terdengar cukup nyeleneh tapi benar adanya. Ia bertanya mengapa tendensi protes Kapital harus dilayangkan ke Jakarta sebagai pusat negara, padahal sudah ada otonomi daerah yang seharusnya tuntutan itu ditujukan setidaknya untuk pemimpin daerah terdekat. Akbar kemudian menjawab bahwa salah satu contoh mengapa mereka tujukan protes ke Jakarta adalah karena kebanyakan jalanan yang rusak di sana statusnya adalah jalan nasional atau jalan lintas daerah dan tidak bisa diurusi secara langsung oleh pemerintah setempat.
Pertanyaan tersebut adalah penutup dari Jaksa Penuntut. Persidangan dilanjutkan oleh tiga pertanyaan dari media sosial yang diberikan di kolom komentar Instagram @dcdc.official. Pertanyaan ada di seputar perselisihan paham dengan personil terdahulu, tips dari Kapital agar bisa bertahan sebagai sebuah band dan ketidakpuasan salah satu Peluru Tajam yang merasa bahwa Kapital jarang hadir di panggung-panggung Kutai Kartanegara sebagai kota asalnya. Kapital menjawab seluruh pertanyaan dengan cukup diplomatis.
Jawaban pertama dielak oleh Kapital karena bongkar pasang personil terjadi karena kesibukan di luar Kapital dan sampai kini hubungan Kapital dengan mantan personil masih berhubungan baik. Pertanyaan kedua dijawab dengan adanya kekeluargaan dan saling keterbukaan. Sementara jawaban pertanyaan ketiga adalah Kutai Kartanegara kini cukup jarang menyelenggarakan acara karena kabarnya perizinannya menjadi sulit dan mahal.
Comments (0)