Songs Review: KALA - “Ia Adu En I” & “Barra Edinnazu”

Songs Review: KALA - “Ia Adu En I” & “Barra Edinnazu”

Pada dasarnya, saya tidak terlalu mengikuti musik-musik black metal, karena terkadang pola musiknya membosankan atau terlalu melelahkan untuk saya. Seperti ada pakem begini: yang penting cepat, kasar, dan mampu menjadi representasi skill dalam bermusik. Tapi, tidak untuk KALA. Mereka memang masih ada dalam pakem tadi, dan saya harus mengakui bahwa mereka memang cukup melelahkan untuk didengar, tapi KALA bermain dinamika. Brutal adalah kata yang tepat untuk menggambarkan materi KALA yang saya dengarkan, tapi mereka cukup cerdas dalam mengakali bagaimana caranya bermain musik ekstrim dengan tidak hanya terfokus pada “bagaimana caranya skill saya dapat di akui oleh pendengar musik cadas”.

Musik mereka unik dan terbilang “aneh”, jadi adalah wajar jika tidak banyak orang yang tersenyum dan bertepuk tangan mengikuti tempo ketika mendengarkan materi KALA. Maka dari itu, perlu ada “papan peringatan” sebelum memasuki dunia KALA. Hati-hati, jika kalian mencari musik yang “memberi ampun”, maka jangan dengarkan KALA. Ini bukan musik untuk para pencari ketenangan. Ini musik untuk para pemuja kebisingan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang KALA menjadikan musik mereka sebagai media musikalisasi dari mantra-mantra karya mantra H.P. Lovecraft yang terdapat dalam buku "The Necronomicon", saya justru tidak mampu merasakan itu. Sebuah lafadz mantra layaknya mampu membangkitkan aroma mistik. Jangankan diiringi oleh musik, jika sebuah mantra dibacakan, maka alam bawah sadar kita akan tertarik ke dalam alam yang mistikal. Sebetulnya, setiap mantra yang dibacakan adalah sebuah alunan komposisi instrumen.

Saya sudah kadung terjebak oleh ilusi statement yang menyatakan bahwa ini adalah sebuah proyek musikalisasi puisi mantra. Yang saya bayangkan adalah sebuah alunan komposisi musik yang mampu membangun atmosfer dari setiap mantra yang dinyanyikan atau dibacakan secara puitis. Komposisi teatrikal yang megah dan dramatis sesak oleh aroma mistis. Dipenuhi warna vokal "hellish" dan "diabolic". Ternyata, itu tidak dihadirkan sama sekali.

KALA gagal menangkap makna fundamental tersebut. Mereka hanya sekadar menjadikan musik mereka sebagai media untuk mengeksplorasi kebisingan dan kecepatan. Sementara, makna dari mantra yang menjadi muatan lirik mereka seolah menjadi sepi makna di antara gemuruh musik dan teriakan-teriakan liar vokalisnya. Jika KALA memang hanya berniat untuk menjadi "berbeda", mereka berhasil untuk melakukan itu. 

BACA JUGA - Masuk di Masa KALA Tapa, Menyambut Fase KALA Nyawa

Foto didapatkan dari Damag, Soundcloud KALA, dan Soundcloud Disaster Records.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner