Kompleksitas Buah Pemikiran The Artchemists, Dikisahkan secara Kontinuitas dalam Album Terbaru ‘Universal Mind’

Kompleksitas Buah Pemikiran The Artchemists, Dikisahkan secara Kontinuitas dalam Album Terbaru ‘Universal Mind’

Sumber foto : Diambil dari siaran pers milik The Artchemish

Universal Mind bermakna, ‘pemikiran manusia’ adalah alam semesta manusia. Penjelajahan individu ke dalam buah pikiran melahirkan dunia bagi dirinya

Sedikit berbicara soal karya musik, nyatanya memang menjadi sebuah jejak yang diukir dalam sejarah perjalanan berkarya dari seorang musisi/band. Terlebih mengenai sebuah album yang merangkum rangkaian materi di dalamnya menjadi satu kesatuan utuh yang menyampaikan suatu sudut pandang tertentu secara lebih menyeluruh. Suatu karya yang dikemas dengan format album, dirasa memiliki muatan yang lebih komplit dan begitu memiliki nilai historis yang sangat monumental, terutama bagi si empunya karya.

Satu buah album penuh dengan tajuk Universal Mind, baru saja keluar dari salah satu kelompok musik psychedelic & experimental di kancah independen, The Artchemists. Album yang begitu monumental bagi band yang dihuni Robby Agustiar (Vocal & Guitar), Aditya Tri Yoga (Lead Guitar), Luthfi Ivansyah (Bass Guitar) dan Bryan Achsan (Drums), dirangkai 10 lagu yang berkesinambungan. Album Universal Mind berakar dari kompleksitas buah pemikiran yang dikisahkan secara kontinuitas oleh The Artchemists.

Universal Mind bermakna, ‘pemikiran manusia’ adalah alam semesta manusia. Penjelajahan individu ke dalam buah pikiran melahirkan dunia bagi dirinya. Dunia yang manusia tinggali pun tidak ayal adalah manifestasi pikiran Sang Pencipta. Seluruh kejadian di alam semesta merupakan buah takdir yang bermuara di sumber yang satu.

Berangkat dari pemikiran awal mula terbentuknya alam semesta atau singularitas, mereka tuangkan dalam “Initial Singularity” yang merupakan babak pembuka di album Universal Mind. Dalam trek pembuka ini, The Archemist menceritakan bagaimana momen awal sebelum lahirnya alam semesta, mereka memaparkan kembali teori bigbang yang menyatakan seluruh ciptaan di alam semesta berada di dalam suatu titik yang menyatukan segala hal.

Dilanjutkan dengan sembilan trek setelahnya mulai dari “Cosmic Philharmonic” yang bertemakan fiksi sains, yang sarat akan makna pencarian spiritual manusia. Lalu diteruskan lewat lagu “Divine Wisdom” sebagai lanjutan “Cosmic Philharmonic”, dimana trek ini membawa pesan bahwa manusia harus hidup dalam harmoni dengan alam, menyelaraskan diri dengan semesta, dan menyatukan diri dengan seluruh eksistensi.

Makna mendalam untuk menyelami jiwa di dalam diri manusia, The Artchemist tuangkan dalam lagu “Light Conquered the Night”, terinspirasi dari karya Dante Alighieri yang berjudul "Divine Comedy". Untuk memurnikan suatu jiwa, seseorang harus berangkat dari neraka terdalam, ke tempat penyucian dosa, hingga sampai ke puncak nirwana. Kemudian masih dengan benang merah yang sama, di lagu “Odyssey” juga dapat ditafsirkan sebagai pembelajaran dari perjalanan yang membuahkan proses metamorfosa diri.

The Artchemists juga berbicara perihal hubungan erat alam bagi manusia di trek selanjutnya dalam lagu “Breathing Trees”,  lagu ini memiliki tema sentral bagaimana kekuatan alam menyelamatkan manusia dalam menjaga keharmonisan hidup. Lalu lebih spesifik lagi tentang fenomena alam lain seperti, romantisme seseorang manusia terhadap suatu bintang paling terang yang menjadi inti cerita di lagu “Supernova”. Juga dalam lagu “Moon Prayer”, yang merupakan sebuah metafora ketabahan di dalam diri seseorang.

Lagu “No Man's Land” kembali mengangkat tema eksistensi diri yang merupakan suatu tema besar yang seringkali muncul di lagu-lagu The Artchemists. Terakhir, ada “Rhymes in Poetry” yang merupakan lagu penutup di album Universal Mind. Kisah inti dalam lagu tersebut adalah tentang dua kehidupan yang terpisahkan, yang pada akhirnya akan dipertemukan kembali pada kehidupan selanjutnya. Pesan yang tergambar dalam “Rhymes in Poetry” adalah ungkapan hukum polaritas yang menyelimuti segala sesuatu, kehidupan-kematian, pertemuan-perpisahan, awal-akhir.

Seluruh materi lagu dalam album Universal Mind direkam di studio musik Strangest Studio, Janu Rahadi Erikaputra (STRANGEST) didaulat sebagai mixing dan mastering engineer. The Artchemists juga melibatkan salah satu nama, Faiz Aditya Rahman sebagai eksekutor artwork album ini. The Artchemist saat ini bernaung di bawah bendera STRANGEST, sebagai label psikadelia di Jakarta Bersama dengan Kalabiru. Simak album penuh milik The Artchemists, selengkapnya melalui tautan dibawah ini.

BACA JUGA - Penyesalan yang Berujung Kesendirian, dalam Debut Single The May's Berjudul “Sorry”

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner