Niskala dan "Montage": Berhenti Mengutuk, Pertangguh Diri, Rebut Ulang Mimpi!
Pandemi menyamarkan mimpi hampir semua orang. Segala rancangan yang sudah dibukukan sejak lama mendadak ditutup, ditunda hingga entah kapan. Niskala menangkap itu dalam "Montage", ketika binar harap mulai meredup dan yang terpenting adalah bertahan hidup.
Nyaris setahun dari kasus pertama Covid-19 di Indonesia dibongkar secara resmi. Sudah selama itu pula lah kehidupan "lama" melalui transisi menjadi kehidupan "baru". Sebuah kehidupan yang membuat kewajiban berubah menjadi kebiasaan, ditandai dengan hal-hal simbolis macam masker dan jarak dua meter. Nyatanya, kehidupan "baru" tidak hanya tentang itu; bukan tentang apa yang ditangkap mata, tapi juga dalam batin yang mesti diulang-alik untuk tetap bisa bugar seperti fisiknya.
Niskala, unit instrumental/post-rock asal Yogyakarta menangkap kondisi itu. Mereka sadar betul bahwa pandemi ini merenggut bagian luar dan dalam manusia: kehidupan sosial, intimasi, finansial, nyawa, hingga—yang paling dekat namun sering luput—harapan. Rancangan masa depan berubah menjadi rencana bertahan hidup di setiap harinya. Cita-cita dan agenda yang sudah ditulis sejak lama mendadak harus dihapus atau paling tidak ditutup dulu sampai waktu yang hanya pemilik semesta yang tahu. Lewat "Montage", Niskala menyuarakan kemelut itu.
Rusaknya mimpi dan harapan akibat wabah ini sepertinya bisa dianggap jadi tragedi yang menimpa semua orang di negeri ini. Bak niskala; tak berwujud; abstrak, semua tujuan hidup itu mendadak samar, tak lagi diperhatikan, membuyarkan semangat. "Montage" bercerita tentang itu, tentang mimpi yang terlanjur ditangguhkan, padahal sudah dirancang sedemikian indahnya namun tak tahan guncangan. "Dipaksa beku tanpa sempat mereka berkata 'setuju'".
Niskala meluapkan itu semua dalam materi yang tidak seperti biasanya. Bukan a la Niskala yang lemah lembut dan cocok di kala sunyi, "Montage" cenderung lebih meledak-ledak dan dinamis. Danis Wisnu, Danar Puspito, Damar Puspito, Daniel Bagas dan Inderajaya melakukannya dengan sengaja. Dibuka dengan alunan pelan, tiba-tiba ditabrak dengan distorsi, juga dengan sentuhan gitar bernuansa eksperimental—Niskala masik apik dalam memainkan emosi pendengarnya. "Montage" mereka buat semegahnya, diakhiri suasana yang seolah berkompromi dengan masalah yang ada.
Tak hanya menawarkan permainan musik yang berbeda, Niskala juga meninggalkan beberapa bebunyian digital yang biasanya mereka pakai. Synthesizer dan sejenisnya mereka tinggalkan. Sebagai gantinya, Niskala bereksplorasi dengan alat musik dasar dari orkestra, seperti trompet, cello, biola hingga klarinet. "Montage" direkam di tiga studio berbeda: Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Neverland Studio dan 101 Music Studio. Untuk proses mixing-mastering masih dipercayakan pada Bobby Marsatya.
Karya kedua yang dirilis Niskala di masa pandemi ini resmi dirilis pada 22 Januari 2021. "Montage" bisa didengarkan lewat berbagai layanan musik streaming. Lewat lagu ini, selain menceritakan keruwetan dunia, Niskala juga ingin mengajak pendengarnya untuk berhenti mengutuk tahun dan mengalihkan energi untuk menangguhkan diri agar mampu menemukan cara untuk kembali mewujudkan cita-cita dan mimpi.
Comments (0)