Ocean Blender; Bahagia Sampai Akhir, Skena yang Merayakan Diri Mereka Sendiri

Ocean Blender; Bahagia Sampai Akhir, Skena yang Merayakan Diri Mereka Sendiri

Foto didapatkan dari siaran pers.

Anoa Records kembali hadir memboyong 16 nama untuk terlibat dalam kompilasi shoegaze/dreampop volume kedua. Bertajuk 'Ocean Blender', album ini jadi penanda valid lainnya akan jargon yang membayangi shoegaze dan dreampop: the scene that celebrates itself.

Lima tahun lalu, Anoa Records merilis album kompilasi bertajuk Holy Noise: Indonesian Shoegazer Compilation dalam format pita kaset. Kompilasi band lokal Holy Noise ide awal rilisannya berangkat dari sebuah acara musik yang diadakan jauh sebelum label Anoa berdiri. Sekitar 17 band ambil bagian dalam kompilasi tersebut, dan Arian13 (Puppen, Seringai) menuliskan liner notes-nya, entah dipilih atau secara sukarela. Rumor beredar, beliaulah yang melabeli kali pertama Themilo sebagai band bising penatap sepatu.

Penulis pun patut berbangga hati, karena ikut dalam rombongan Astrolab (Bandung) yang ikut serta dalam momen pesta perilisannya dalam sebuah gigs bulanan Superbad! edisi ke-67, besutan duo ‘thesecretagents’ dari RuangRupa: Indra Ameng dan Keke Tumbuan, di Jaya Pub, Jakarta Pusat (8/3/2015). Damascus main malam itu, juga Seaside (Jakarta), dan Sharespirings (Jakarta).

Menoleh ke belakang, acaranya bertajuk Tribute to 90’s Shoegaze, di Prost Beer House Kemang, April 2009. Seperti banyaknya gigs periode ini, panitianya adalah peserta juga para personil dari band-bandnya juga, seperti Damascus, Sharesprings, Mellonyellow, dan dua band Bandung, Jellybelly dan Avenue. Pendek cerita, acara ini yang pada awalnya hanya diminati sekitar 100 orang, ternyata membludak hingga 500an orang, sampai harus membuat tiket dadakan dari kertas bon warung.

Sejak itu, skena shoegaze dan dreampop lokal sebenarnya sudah ada, tanpa embel-embel apapun, dan melakukan apa yang disukai. The scene that celebrates itself. Seperti jargon sahih dari kiblat asalnya di Britania Raya sana, medio akhir '80-an sampai awal '90-an. Terlihat ketika segelintir band mengadakan acara musik senang-senang pada sebelas tahun lalu itu. MySpace ketika itu menjadi salah satu ruang berjejaring band-band tersebut, zine dan blogging, saling datang ke acara musik jika ada band teman yang main, dan membeli rilisan fisik tiap band. Sederhana saja.

Nostalgia masa lalu tidak penting juga, karena bagaimana pun band-band baru akan tetap muncul. Tapi suka atau tidak, ada romantisme yang jujur dan tulus, ketika kamu melakukan apa yang kamu suka, mendapat pujian dan juga sindiran, dan band-band yang ada di kompilasi Holy Noise, menurut kami, sebagian besar melaluinya.

Ocean Blender adalah kelanjutan dari kompilasi Holy Noise. Dirilis secara resmi pada tanggal 5 Mei 2021, Ocean Blender dirilis dalam format kaset dan digital di storefront club. Artwork kompilasi ini sendiri dibuat oleh Ritchie Ned Hansel (The Sastro, Damascus) yang juga mendesain artwork Holy Noise sebelumnya.

Enam belas band yang ada di Ocean Blender yang patut diketahui orang banyak, dan mereka punya perjalanannya sendiri dalam melakukan apa yang mereka suka. Ocean Blender berisikan band-band lokal shoegaze / dreampop senior, seperti Themilo, Lass, Belladonna, Bleary Eyes, Sharesprings, hingga band-band terbaru seperti Dive Collate, Eyesun, Winona Dryver atau Allo Cables. Kompilasi Ocean Blender ibarat palet riuh bising penuh warna dari skena kecil lokal yang terus tumbuh. Blissfull till the end.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Anoa Records (@anoarecords)

BACA JUGA - Pertemukan Band Bali dan Spanyol, Anoa Records Rilis Split Album 'Dive The Lions'

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner